calonarang
Perwakilan Prajuru adat Tegal Jadi dan Jro Mangku Pura Dalem saat menunjukkan lokasi pementasan Calonarang. (BP/bit)
TABANAN, BALIPOST.com – Pementasan Calonarang sebagai rangkaian puncak pujawali di Pura Dalem Tegal Jadi, Desa Tegal Jadi, kecamatan Marga, Sabtu (15/4) malam, berakhir dengan peristiwa berdarah, akibat seorang krama yang ngayah calonarang mengalami luka tusuk keris.

Dari informasi yang dihimpun, krama yang terkena tusukan keris dibagian perut tersebut bernama I Putu Nadiasa (41) asal banjar setempat. Perawat jaga BRSUD Tabanan Ni Kadek Indrayanti menyebutkan, pasien atas nama I Putu Nadiasa tiba di UGD BRSUD Tabanan sekitar pukul 01.34 wita. Pasien mengalami luka sepanjang dua centimeter di bagian perut setelah melakukan “ngunying” (menusuk diri dengan keris dalam keadaan kesurupan). “Pasein sudah jalani operasi, saat ini sudah sadar dan akan dipindahkan ke ruang perawatan,” katanya.

Wakil prajuru desa I Gede Suwela didampingi jro mangku alit pura dalem madya setempat saat ditemui pasca kejadian, Minggu (16/4) menyampaikan  saat upacara “piodalan” di Pura Dalem Tegal Jadi memang diadakan pementasan Calonarang dimana sesuai bhisama pementasan ini dilakukan setahun sekali untuk menetralisir hal-hal negatif di desa.

Seperti biasa, pementasan dilakukan di “jabe kaja” Pura tersebut. Krama desa yang saat itu  menonton jumlahnya cukup membludak. Saat “tapakan” Rangda keluar terjadi banyak “kerauhan” atau kesurupan termasuk korban. Saat kerauhan itulah, terjadi saling tusuk antara warga yang kerauhan dengan Rangda. Sekitar pada pukul 00.30 wita korban I Putu Nadiasa sempat beberapa kali menghujamkan keris ke tubuh Rangda. Saat Rangda masuk ke dalam Pura, warga lain dan korban yang kesurupan “ngunying”. Hingga akhirnya korban mengalami luka pada perut bagian atas dan selanjutnya korban di bawa ke BRSUD Tabanan.

Baca juga:  Rangkaian Karya Betara Turun Kabeh, Krama Padangan Meboros Kidang

Wayan Suwela mengatakan kejadian ini baru pertama kali terjadi. Bahkan sebelumnya krama juga dikagetkan dengan adanya dua ekor ular yang saling melilit.  “Meski sudah diupacarai oleh jro mangku, tetap saja dua ular ini melilit dan tidak mau keluar dari areal Pura, hingga akhirnya krama membawa kedua ular tersebut ke alas di sebelah timur geding ratu gede,” ujarnya.

Terkait peristiwa luka tusuk keris, ia pun mengaku tidak tahu secara pasti. Hanya saja memang saat pementasan saat itu banyak krama yang kerauhan. Dan magnet kesaktian dari ida sesuhunan di pura Dalem saat itu dirasa memang cukup kuat. Ia pun melihat Nadiasa beberapa kali mencoba menghujamkan keris tapi tidak berhasil. Dan saat ‘ngunying’ itulah ada darah di perut Nadiasa.

Terkait adanya kejadian ini, pihak prajuru desa dan jro mangku setempat langsung melakukan urun rembug dan memutuskan akan segera ke griya untuk meminta petunjuk ida sulinggih terkait upacara yang akan dilakukan untuk mengembalikan kesucian areal pura.

“Terkait upacara yang dilakukan pasca kejadian pasti akan kami lakukan, tapi masih menunggu petunjuk ida sulinggih terkait apa kekurangannya dan bentuk upacara yang akan dilakukan apa itu pecaruan maupun guru piduka,” pungkasnya.

Pasca kejadian tersebut, pihak keluarga Nadiasa yakni Ni Made Kandri (ibu Nadiasa, red) juga telah mepekeling untuk memohon kesembuhan pada ida sesuhunan di pura dalem Tegal Jadi agar anaknya di rumah sakit bisa sembuh seperti sedia kala. (puspawati/balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.