JAKARTA, BALIPOST.com – Nama Wakatobi lagi-lagi disebut-sebut Presiden Joko Widodo. Satu dari 10 top destinasi prioritas, yang acap dibilang “10 Bali Baru” itu dia harapkan segera dikebut dan betul-betul menjadi simpul destinasi top Indonesia.

Presiden yang beken dengan panggilan Jokowi itu bahkan memerintahkan para pembantunya di Kabinet Kerja punya kepedulian pada sektor pariwisata. Salah satu destinasi yang di-mention langsung oleh Presiden Jokowi adalah Wakatobi di Sulawesi Tenggara.

Presiden mengharapkan keindahan alam Wakatobi bisa digarap lebih optimal sebagai destinasi wisata bahari. “Keindahan alam laut di Wakatobi bisa dikembangkan menjadi magnet yang sangat kuat untuk menarik kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara,” ujar Presiden Jokowi dalam rapat terbatas dengan sejumlah menteri Kabinet Kerja di kantor kepresidenan Jakarta, Senin (10/4).

Seperti diketahui, Wakatobi sudah ditetapkan oleh Presiden Jokowi menjadi satu dari 10 Destinasi yang dipercepat. Kemenpar bahkan menargetkan kabupaten yang terdiri dari gugusan Pulau Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, Biongko itu segera dipoles menjadi atraksi berkelas internasional pada 2019 mendatang.

Baca juga:  Ini, Ada Desa Wisata Keren di Pujon Kidul Malang
Langkah itu sebagai upaya agar pada 2019 ada 500 ribu wisatawan mancanegara berkunjung ke kabupaten pemilik taman laut dengan keindahan luar biasa tersebut. “Sebagai satu dari sepuluh destinasi pariwisata prioritas, paling lambat tahun 2019 Wakatobi sudah menjadi destinasi yang dikenal dengan atraksi berkelas dunia. Atraksi itu meliputi DTW (daya tarik wisata, red) alam, DTW budaya dan DTW buatan,” ujar Ari Surhendro selaku person in charge (PIC) Wakatobi Pokja 10 Destinasi Prioritas Kemenpar.

Namun, Wakatobi juga menghadapi persoalan aksesibilitas. Khusus untuk pengembangan aksesibilitas, memang ada jalur laut dan udara.

Namun, prioritas saat ini untuk menjawab persoalan aksesibilitas bagi Wakatobi adalah pengembangan bandara internasional. “Paling lambat tahun 2019 Wakatobi sudah mempunyai bandara internasional,” sambung Ari.

Sementara untuk amenitas, Wakatobi ditargetkan pada 2019 sudah memiliki international chain hotel. Di samping itu, amenitas lain yang dikebut di Wakatobi adalah prasarana umum seperti listrik, air, pengolahan limbah, telekomunikasi, hingga perbankan, rumah sakit, polisi pariwisata, toilet, parkir, dan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). “Di Wakatobi ada tiga SPBU,” sebutnya.

Selain itu, fasilitas pariwisata seperti akomodasi, restoran, tourist information service (TIS), papan informasi dan suvenir juga dikebut. “Juga program homestay,” paparnya.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menangkap sinyal Presiden Jokowi itu sebagai “perintah”. Dia akan terus memantau perkembangan Wakatobi, untuk mencapai visi mewujudkan destinasi bahari itu sebagai salah satu kekuatan dunia.

Arief Yahya menyebut, dari sisi akses, Wakatobi akan semakin terbuka ketika penerbangan dari Denpasar ke Wangi-Wangi mulai diterbangi Garuda Indonesia atau maskapai lain dalam jangka pendek. Bandara Ngurah Rai di Bali untuk sementara dijadikan hub ke Wakatobi karena wisatawan underwater sudah landing di Pulau Dewata. “Itu critical access jangka pendek,” ucap Menteri Arief.

Sedangkan untuk jangka menengah dan panjang adalah menaikkan status Bandara Matahora menjadi international airport. Dengan demikian, Wakatobi bisa dijangkau dengan penerbangan dari luar negeri tanpa harus transit.

“Kalau ingin menjadi destinasi kelas dunia, harus bisa diterbangi oleh maskapai langsung dari negaranya, tidak perlu transit. Dan begitu dijadikan destinasi prioritas, maka tidak ada pilihan, airport nya juga harus international,” ucap Menteri Arief yang juga mantan Dirut PT Telkom itu. (kmb/balipost)

1 KOMENTAR

  1. Untuk pemerintah agar memperhatikan juga akses penerbangan yg hanya 1 kali perhari dengan pesawat wings tentunya masih sangat kurang. Perhatikan juga akses penunjang di darat seperti akses internet yg blm bagus.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.