sekolah
Made Gandra saat pulang sekolah melintasi jalan setapak yang terjal. (BP/nik)
GIANYAR, BALIPOST.com – Made Gandra merupakan anak 10 tahun yang masih duduk di bangku kelas IV SD N 2 Kerta. Untuk bisa sampai di sekolah, anak asal Banjar Pilan, Desa Kerta Kecamatan Payangan ini harus jalan kaki sejauh 2 Kilometer, melewati jalan setapak yang curam.

Ditemui, Kamis (23/3), I Made Gandra hanya tinggal bersama sang ibu I Made Gendis (43), setelah ditinggal untuk selama oleh ayah I Wayan Rumpyuk (almarhum) dan kakak I Wayan Jindra (almarhum). Gandra tinggal di pondokan yang posisi di lahan pertanian warga di Banjar Pilan, Desa Kerta. Kondisi ekomoni yang kurang membuat ibu dan anak tinggal di pondokan yang lapuk dan bocor disana-sini.

Sementara Made Gendis mengaku setelah ditinggal sang suami sekitar 10 tahun lalu, kerap bekerja seorang diri. Kadang kala menjadi buruh cangkul, kadang juga jadi buruh panggul. Penghasilan setiap hari juga tidak menentu, pasalnya tidak setiap hari ada pekerjaan untuknya. “Upah dicukup-cukupkan, untuk makan dan bekal Gandra ke sekolah,” ujar Made Gandis.

Penghasilan yang didapat Gendis tidak mencukupi untuk merenovasi pondokanya. Ketika hujan Gendis dan Gandra siap-siap tidak bisa tidur nyenyak pasalnya air hujan masuk ke dalam rumah.

Baca juga:  Gek Diah 3G, Bayu Kawe, Yong Sagita, Dek Ulik, dan MKP Mersi Siap Guncang FTF 2017

Dibeberapa sudut atap rumah bocor, mereka pun punya inisiatif untuk memasang terpal diatas atap agar saat hujan tidak bocor lagi. “Saya yang pasang terpal, pas hujan air tidak masuk,” ujar Gendis sembari menunjukan terpal yang dipasang. Tidak hanya itu, satu banguan di bagi menjadi dua, untuk dapur dan tempat tidur.

Sementara untuk kebutuhan air bersih, ibu dan anak ini hanya memanfaatkan air sungai yang ada di bawah rumahnya. Namun dirinya perlu berjalan sejauh 1 kilometer agar sampai di sumber. Seperti biasa mereka harus melintasi jalan setapak yang ada ditengah ladang warga. Sekitar 500 meter jarak tempuh dari pondokan Gendis menuju jalan raya. Ketika malam hari jalan menuju pondokan Gendis gelap gulita. “Sudah biasa jalan gelap-gelapan, dan tidak ada jalan lain lagi,” jelas ibu yang berbadan kurus ini. (manik astajaya/balipost)

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.