Terlihat sejumlah krama mengikuti tradisi Siyat Sampian. (BP/nik)
GIANYAR, BALIPOST.com – Ratusan ‘pengayah’ yakni sutri (perempuan) dan juru sirat (pria) pelaksanaan tradisi “Siat Sampian”, Rabu (15/3). Kegiatan ini digelar tiga hari setelah puncak Karya Padudusan di Pura Penataran Sasih Pejeng.

Ritual ini gelar pada saat Ida Betara Pura Samuan Tiga serta ratu manca – manca katuran budal. Ritual Siyat Sampian ini sudah dipersiapkan sejak pagi hari, yang di awali dengan ‘nampyog’ dimana para sutri dan juru sirat menari mengelilingi areal Pura Penataran Sasih. Selanjutnya, diikuti dengan mabete-betean dan tarian ombak. Seluruh prosesi ini dilaksanakan dengan mengelilingi areal Pura Penataran Sasih sebanyak tiga kali.

Usai prosesi tersebut, para sutri dan juru sirat sempat mengikuti istirahat sejenak. Selanjutnya juru sirat dan sutri melakukan persembahyangan di hadapan pengaruman Pura serta pelinggih Ratu Sanghyang.

Baca juga:  Gedong Pengaruman di Pura Penataran Sasih Terbakar

Usai sembahyang dan diperciki tirtha, sejumlah peserta mulai berteriak karena kerasukan. Selanjutnya mereka pun langsung mengambil sampian yang sebelumnya telah disediakan di halaman pura. Selama tradisi ini mereka tampak saling pukul menggunakan sampian dengan temannya.

“Tidak ada yang merasa sakit, selama menjalani tradisi ini. Saya pribadi malah merasa bangga dan bahagia setelah melalui tradisi ini. Terlebih seluruh rangkaian piodalan sudah berjalan lancar,” ujar Oyis, salah seroang juru sirat yang mengikuti tradisi Siat Sampian itu.

Manggala Karya Padudusan Pura Penataran Sasih, Dewa Ngakan Nyoman Suardita menegaskan, tradisi Siat Sampian ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun saat Piodalan di Pura Penataran Sasih. “Tradisi ini harus selalu dilaksanakan setiap gelaran Piodalan padudusan di Pura Penataran Sasih setiap tahunnya,“ ucapnya. (manik astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.