Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Senin (13/7/2026). (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (4/11) bergerak melemah 8 poin atau 0,04 persen menjadi Rp18.168 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.160 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi surplus perdagangan Indonesia lebih rendah dari bulan sebelumnya.

“Kementerian Perdagangan pada Selasa (3/11/2026) menyampaikan bahwa Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar 3,36 miliar dolar AS pada September 2026. Meski masih mencatatkan surplus, angka tersebut lebih rendah dibandingkan 3,55 miliar dolar AS pada Agustus,” ucapnya dilansir dari Kantor Berita Antara.

Baca juga:  Thermal Gun Dianggap Bisa Merusak Otak, Ini Penjelasan Achmad Yurianto

Di sisi lain, impor tumbuh 18,41 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor sebesar 11,87 persen.

Menurut dia, peningkatan impor terutama barang modal dan bahan baku untuk mendukung aktivitas industri, menunjukkan adanya kebutuhan produksi yang meningkat.

Namun, lanjutnya, kondisi ini juga perlu dicermati karena dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

Melihat sentimen global, data lowongan pekerjaan Amerika Serikat atau JOLTS yang dirilis Selasa (3/11/2026) mencapai 7,52 juta, lebih tinggi dari perkiraan pasar. Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat dan dapat membuat The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Baca juga:  Tambahan Kasus COVID-19 Nasional Turun di Bawah 7.000

Kendati begitu, indeks dolar AS (DXY) pada perdagangan hari ini dinyatakan bergerak melemah ke sekitar 101,46 atau turun sekitar 0,40 persen.

“Koreksi dolar AS tersebut memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih baik, meskipun tekanan dari faktor domestik masih perlu diperhatikan,” ungkap Amru.

Pasar disebut akan mencermati sejumlah data ekonomi AS yang dirilis malam ini, terutama laporan ketenagakerjaan ADP dan ISM Services PMI.

Kedua data tersebut dianggap akan memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja dan aktivitas sektor jasa AS, sekaligus mempengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.

Baca juga:  Menkeu dan DPR RI Sepakat Naikan Target Pertumbuhan Ekonomi

Rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III pada Kamis (5/11/2026) juga akan menjadi perhatian pasar.

“Data ini diperkirakan dapat memberikan gambaran lebih lanjut mengenai ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global,” kata dia.

Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini justru bergerak menguat ke level Rp18.140 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.148 per dolar AS. (kmb/balipost)

BAGIKAN