Tangkapan layar dr. Indri Yogyaswari, MARS, memberikan penjelasan terkait imunisasi HPV. (BP/iah)

DENPASAR, BALIPOST.com – Infeksi Human Papillomavirus (HPV) sering kali disalahartikan sebagai masalah kesehatan yang hanya menyerang wanita. Padahal, virus ini dapat menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita, serta memicu berbagai jenis penyakit mulai dari kutil hingga kanker ganas.

Untuk memperluas jangkauan imunisasi HPV, menurut Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan, dr. Indri Yogyaswari, MARS, pihaknya akan menyasar kelompok usia 20-25 tahun pada 2027. Meski demikian, pihak Kemenkes masih harus berproses bersama kementerian terkait, seperti Bappenas dan Kementerian Keuangan, termasuk dalam hal pemenuhan sumber daya, logistik, hingga penyediaan vaksin.

“Tahun depan kita akan menyasar pada usia yang lebih dewasa, 21 sampai 25. Ini memang nanti akan jadi tantangan bagi kami, karena sampai saat ini untuk program imunisasi dewasa ini kami belum punya pola best practice-nya,” katanya dalam webinar dengan tema “Mencegah Kesakitan dan Kematian akibat HVP dengan Imunisasi” yang dipantau secara daring dari Denpasar, Kamis (29/10).

dr. Indri menjelaskan bahwa pelaksanaan program bagi usia dewasa ini nantinya tidak melalui BPJS Kesehatan, melainkan vaksin akan disediakan langsung oleh pemerintah. Mekanisme distribusinya direncanakan melalui jalur pusat yang disalurkan ke Dinas Kesehatan, lalu diteruskan ke Puskesmas maupun Posyandu.

Baca juga:  MBG Dipangkas Jadi 5 Hari, Potensi Penghematan Anggaran Capai Rp20 Triliun

Kendati persiapan teknis dan strategi masih terus difinalisasi, Kemenkes berharap rencana perluasan jangkauan vaksinasi HPV ini dapat segera direalisasikan untuk melindungi kelompok usia dewasa secara lebih optimal.

Dalam kesempatan itu, ia juga memaparkan capaian vaksinasi untuk imunisasi HPV bagi anak perempuan secara nasional telah berada di angka 83,5% dari target 90%.

Khusus untuk anak laki-laki, program perluasan imunisasi HPV pada tahun ini baru diterapkan di tiga provinsi terlebih dahulu, yakni DKI Jakarta, Yogyakarta, dan Bali.
“Untuk yang anak laki-laki yang kami perluas di tahun ini untuk 3 provinsi terlebih dahulu, yaitu DKI Jakarta, Yogyakarta, dan Bali, itu targetnya 90%. Kita sudah ada di angka 88% untuk yang laki-laki,” jelas dr. Indri.

Lebih lanjut, dr. Indri menjelaskan mengapa vaksinasi HPV kini juga mulai diperluas kepada anak-anak, termasuk anak laki-laki. Dari sisi efektivitas, vaksin memberikan perlindungan yang jauh lebih tinggi jika diberikan pada usia dini.

“Kalau diberikan pada anak usia 9 sampai 14 tahun dengan hanya satu dosis, itu bisa memberikan perlindungan hampir 90%, angka presisinya di 88% perlindungannya. Akan tetapi, kalau diberikan pada usia lebih dari 20 tahun dengan diberikan dua dosis, itu paling hanya sekitar 60% perlindungannya,” paparnya.

Baca juga:  Rangkaian HUT ke-45, Aerofood ACS Denpasar Gelar Sosialisasi Kanker Serviks

Ia menegaskan bahwa seiring perkembangan ilmu pengetahuan, terbukti pula bahwa infeksi HPV yang persisten pada organ kelamin laki-laki dapat memicu kanker organ kelamin pria, kanker tenggorokan, hingga kanker anus dengan tingkat risiko yang cukup tinggi. Oleh karena itu, prinsip kesetaraan dan pemerataan kesehatan mendasari langkah Kemenkes untuk melindungi seluruh anak, baik perempuan maupun laki-laki, di masa depan.

Terkait HPV, Ketua Komnas KIPI (Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi), Prof. Dr. dr. Hindra Irawan Satari, menjelaskan bahwa virus ini menyerang manusia dan menyebabkan infeksi yang awalnya berupa kutil.

“Jadi, virus yang menyerang manusia, kalau papilloma itu bahasa awamnya kutil,” ujar Prof. Hindra.

Prof. Hindra membagi kategori risiko infeksi HPV menjadi dua. Risiko rendah meliputi kutil di kulit seperti di jari atau telapak tangan, serta infeksi pada saluran pernapasan (papillomatosis respiratorius) yang dapat berulang dan mengganggu pita suara. Selain itu, ada pula kutil di area kelamin atau kondiloma akuminata yang berbentuk seperti kembang kol atau anggur di daerah genital, anus, atau mulut akibat HPV tipe 6 dan 11.

Namun, Prof. Hindra menegaskan bahwa terdapat jenis virus HPV yang bersifat high-risk atau berisiko tinggi dan menyebabkan perubahan sel hingga berujung pada kanker. Kanker tersebut dapat menyerang leher rahim, anus, hingga kanker orofaring di area mulut dan tenggorokan.

Baca juga:  Dari Kardus Berisi Mayat Bayi Membusuk hingga Petani Jeruk Terancam Gagal Panen

“Ternyata, data menunjukkan penderita kanker rahim pada wanita ini terkait dengan infeksi HPV di awal-awal remaja. 87 sampai 90 persen terkena infeksi HPV, dan pada beberapa dekade seterusnya umur 40-an itu mengalami cancer cervix, kanker rahim,” jelas Prof. Hindra.
Ia juga mengungkapkan angka yang mengkhawatirkan secara global terkait kasus kanker serviks. Berdasarkan data yang ada, tercatat ada 89.000 kasus baru setiap tahunnya.

“Jadi, kalau dihitung-hitung, ada 89 kasus baru yang terdiagnosis setiap harinya. Jadi, ada 4 wanita terdiagnosis kanker serviks setiap jam,” ungkap Prof. Hindra.

Angka kematiannya 21.000 kematian per tahun, artinya 57 wanita meninggal setiap hari, atau 2 sampai 3 wanita setiap jam. “Di Indonesia, kanker serviks ini masuk peringkat kedua setelah kanker payudara,” sebutnya.

Lebih lanjut, Prof. Hindra meluruskan pemahaman keliru di masyarakat bahwa HPV hanya menyerang perempuan. Data menunjukkan bahwa satu dari setiap pria juga mempunyai risiko untuk terkena infeksi HPV pada genitalnya. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN