
JAKARTA, BALIPOST.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (20/10) bergerak naik 54 poin atau 0,30 persen menjadi Rp17.992 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.046 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi menyatakan penguatan rupiah dipengaruhi pencabutan sanksi dan tarif AS terhadap Rusia.
“Perintah eksekutif yang diterbitkan oleh Trump (Presiden AS Donald Trump) pada Jumat malam (16/10) mencabut sanksi dan tarif utama AS yang berkaitan dengan Rusia, termasuk bea atas barang-barang dari negara tersebut serta penalti bagi pihak yang membeli minyak dan gas Rusia,” ucapnya dilansir dari Kantor Berita Antara.
Anadolu melaporkan bahwa Trump menerbitkan perintah eksekutif untuk memberlakukan undang-undang baru mengenai sanksi terhadap Rusia, tetapi mengecualikan tarif dan sejumlah sanksi dari penerapannya. Berdasarkan perintah itu, tarif atas barang-barang Rusia dinaikkan sebesar 500 persen.
Perintah tersebut juga menetapkan tarif tambahan sebesar 100 persen terhadap barang-barang dari lima negara pengimpor terbesar minyak dan gas Rusia apabila negara-negara tersebut melakukan pembelian baru pada atau setelah 18 Oktober.
Kenaikan tarif sebesar 100 persen yang sama juga berlaku terhadap barang-barang dari lima negara yang dinilai paling berperan dalam memfasilitasi penghindaran sanksi terkait minyak Rusia.
Namun, Trump mengecualikan tarif tersebut dengan alasan kepentingan nasional Amerika Serikat dan telah menyampaikan sertifikasi resmi kepada Kongres, menurut Gedung Putih.
Pengecualian itu akan tetap berlaku hingga presiden atau menteri luar negeri AS memutuskan bahwa tindakan lebih lanjut perlu diambil.
Di samping itu, konflik Ansarullah Yaman dengan Arab Saudi yang masih berlangsung turut mempengaruhi pergerakan rupiah.
“Serangan-serangan baru ini meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas kawasan dan menegaskan risiko yang terus ada terhadap pasokan energi dari wilayah tersebut, sehingga menjaga harga minyak tetap berada di atas 100 dolar AS per barel,” kata Ibrahim.
Pernyataan terbaru dari para pejabat The Fed juga mengisyaratkan keterbukaan terhadap pengetatan lebih lanjut, meskipun mereka belum memberikan sinyal kuat mengenai kenaikan suku bunga pada pertemuan tanggal 27–28 Oktober.
Saat berbicara di Bangkok pada hari Jumat (16/10), Ketua The Fed Kevin Warsh tetap pada pendiriannya untuk menghindari pemberian panduan ke depan, dengan menyatakan, “Saya tidak ingin berprasangka terhadap hasil pertemuan mendatang.”
Pekan ini, agenda ekonomi AS tidak akan diisi oleh pidato dari para pejabat Federal Reserve (The Fed) karena bertepatan dengan periode blackout (masa tenang) menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Oktober.
“Namun, sejumlah data ekonomi tetap akan dirilis, seperti data mingguan klaim tunjangan pengangguran, serta data awal (flash) PMI dari S&P Global,” ungkap dia.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp18.006 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.050 per dolar AS. (kmb/balipost)









