Tangkapan layar transaksi antara oknum ojol dan bule karena langkanya BBM di Bali. Diduga satu botol BBM dijual dengan harga Rp150-200 ribu. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Viral di media sosial, unggahan yang memperlihatkan oknum warga mengenakan jaket ojek online (ojol) menjual bahan bakar minyak (BBM) dengan harga mencapai Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per botol air mineral berukuran besar. Bahkan, dalam rekaman yang beredar, oknum tersebut terlihat menjual BBM kepada wisatawan asing.

Praktik yang diduga memanfaatkan situasi kelangkaan BBM di Bali ini disayangkan karena berpotensi memperparah kesulitan masyarakat yang masih harus mengantre panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Selain merugikan konsumen, praktik tersebut juga berpotensi mencoreng citra pariwisata Bali.

Menyikapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Energi Sumber Daya Mineral (Disnaker ESDM) Provinsi Bali, Ida Bagus Setiawan, mengaku sangat menyayangkan adanya oknum yang memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan pribadi.

Baca juga:  Belum Ada Laporan Dugaan BBM Bermasalah ke Polda Bali

“Kami telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk menyikapi hal itu,” kata Setiawan, Kamis (15/10), saat dimintai tanggapan terkait maraknya penjualan BBM menggunakan botol bekas air mineral yang beredar di media sosial.

Setiawan menegaskan, dalam situasi saat ini, penyaluran BBM harus memprioritaskan konsumen yang membeli secara langsung di SPBU. Karena itu, masyarakat diimbau tidak menggunakan jeriken untuk membeli BBM dalam kondisi tersebut.

“Artinya, tidak, tidak boleh menggunakan jeriken,” tegasnya.

Selain itu, Setiawan mengimbau masyarakat membeli BBM secara wajar dan menyesuaikan dengan kapasitas tangki kendaraan masing-masing. Langkah ini dinilai penting agar pasokan yang tersedia dapat dimanfaatkan secara merata oleh masyarakat, terutama ketika antrean masih terjadi di sejumlah SPBU.

“Terutama motor laki yang tangkinya besar disesuaikanlah. Termasuk juga roda empat. Karena beberapa hari ke depan bisa nyari lagi. Kalau langsung semuanya full tank, yang lainnya jadi enggak dapat,” ungkapnya.

Baca juga:  Konsekuensi Logis! Wisman Wajib Karantina 5 Hari Ditanggung Sendiri

Menurutnya, pembelian BBM secara berlebihan justru berpotensi membuat konsumen lain kesulitan memperoleh bahan bakar. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tidak melakukan pembelian secara berlebihan dan tetap mempertimbangkan kebutuhan pengguna lainnya.

Di tengah keluhan masyarakat mengenai antrean panjang, Setiawan juga membantah anggapan warganet bahwa pejabat tidak mengalami kesulitan mendapatkan BBM karena bisa memperoleh pelayanan tanpa harus mengantre. Ia mengaku turut merasakan kondisi yang dialami masyarakat.

“Kita juga tidak bisa berkutik, akhirnya dapat di Kusamba dan ngantri 1,5 jam,” tuturnya.

Setiawan mengatakan, pihaknya terus berkoordinasi dengan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) untuk memastikan pelayanan kepada masyarakat berjalan sesuai dengan ketersediaan pasokan. Ia menyebut penyaluran BBM akan dilakukan segera apabila stok tersedia.

Baca juga:  Kasus Penahanan Pengusaha Tambang, Keluarga Tuding Ada Upaya Pemerasan

“Jadi kalau memang barangnya tersedia, pasti akan disalurkan segera,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia meminta masyarakat tetap tertib saat mengantre di SPBU serta tidak melakukan tindakan yang dapat memperburuk situasi. Ia juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang mengambil keuntungan secara berlebihan di tengah kesulitan masyarakat memperoleh BBM.

“Bagi yang ada oknum yang memanfaatkan situasi, ya saya harap sadarlah, jangan mencari keuntungan di penderitaan banyak orang,” pintanya.

Pihaknya berharap masyarakat dapat saling menjaga ketertiban dan mengutamakan kepentingan bersama selama kondisi pasokan BBM belum sepenuhnya normal. Koordinasi dengan aparat penegak hukum dan pihak terkait juga dilakukan untuk menyikapi dugaan praktik penjualan BBM dengan harga tidak wajar tersebut. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN