Gubernur Bali, Wayan Koster (kiri) usai menggelar rapat tertutup dengan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, di Ruang Rapat Pertamina Fuel Terminal Sanggaran, Pedungan, Denpasar, Selasa (13/10) sore. (BP/win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Gubernur Bali, Wayan Koster memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), khususnya Pertalite dan Pertamax di Bali mencukupi kebutuhan masyarakat hingga beberapa hari ke depan. Untuk mengatasi kelangkaan dan antrean panjang yang masih terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), depo BBM dan SPBU di wilayah Denpasar serta Badung disiapkan beroperasi selama 24 jam.

Kepastian tersebut disampaikan Gubernur Koster seusai menggelar pertemuan tertutup dengan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, di Ruang Rapat Pertamina Fuel Terminal Sanggaran, Pedungan, Denpasar, Selasa (13/10) sore. Pertemuan yang dimulai pukul 15.30 WITA itu berlangsung alot hingga pukul 17.30 WITA.

Gubernur Koster menjelaskan, pasokan BBM ke Bali sebenarnya masih tersedia. Pada Selasa (13/10), kapal tanker telah tiba di Depo Terminal BBM Manggis dan Depo Sanggaran Denpasar dengan membawa pasokan Pertalite sebanyak 19,2 juta liter. Jumlah tersebut diperkirakan mencukupi kebutuhan selama enam hingga tujuh hari ke depan.

Selain itu, pasokan Pertamax sebanyak 3 juta liter juga telah tiba dan diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga tiga hari ke depan. Pasokan tambahan dijadwalkan kembali masuk secara bertahap pada 15, 16, dan 17 Oktober 2026.

Baca juga:  Denpasar Kembali Laporkan Tambahan Korban Jiwa COVID-19, Puluhan Kasus Baru Tersebar di 18 Desa

“Dari segi ketersediaan, yang datang hari ini itu sampai tujuh hari ke depan belum habis, tetapi sudah akan datang lagi dua hari kemudian. Artinya, stok minyak BBM, Pertalite dan Pertamax itu tersedia, bisa mencukupi kebutuhan, bahkan melebihi kebutuhan normal di Provinsi Bali,” ujar Koster.

Ia juga menyebutkan, pasokan Pertamax tambahan dijadwalkan tiba pada 13 dan 17 Oktober dengan total 13 juta liter, yang diperkirakan mencukupi kebutuhan selama 10 hingga 11 hari ke depan.

Di sisi lain, kebutuhan BBM di Bali tergolong tinggi. Konsumsi Pertalite diperkirakan mencapai 2 juta hingga 2,3 juta liter per hari, sedangkan Pertamax sekitar 1 juta liter per hari. Tingginya kebutuhan ini membuat kelancaran distribusi menjadi faktor penting dalam mengatasi antrean di SPBU.

Gubernur Koster mengatakan, perhatian utama saat ini adalah mempercepat penyaluran BBM dari depo menuju SPBU, terutama di Denpasar dan Badung yang menjadi wilayah dengan kebutuhan tinggi. Di kedua daerah tersebut terdapat total 92 SPBU, terdiri atas 54 SPBU di Denpasar dan 38 SPBU di Badung.

Baca juga:  Wanita Asal Bandung Dirampok Lalu Diperkosa

Untuk mempercepat distribusi, operasional depo Manggis dan Sanggaran akan ditingkatkan menjadi 24 jam. SPBU di Denpasar dan Badung juga disiapkan melayani masyarakat selama 24 jam. Meski demikian, penerapan operasional penuh membutuhkan persiapan, termasuk kesiapan tenaga kerja dan aspek teknis lainnya.

Selain memperpanjang waktu operasional, Pertamina menambah armada mobil tangki untuk mempercepat pengiriman BBM. Dalam kondisi normal, distribusi dari depot ke SPBU membutuhkan sekitar 90 armada. Jumlah tersebut ditingkatkan menjadi 105 armada atau bertambah 15 unit.

Distribusi juga diperkuat melalui koordinasi dengan Polda Bali untuk membantu pengawalan mobil tangki dari depo menuju SPBU. Menurut Koster, dukungan pengawalan tersebut telah mulai berjalan sejak Selasa siang.

Gubernur Koster menegaskan, penanganan persoalan BBM tidak bisa hanya dibebankan kepada Pertamina. Pemerintah daerah turut bertanggung jawab memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi dan situasi di lapangan kembali normal.

Baca juga:  Ini, Alasan Pemerintah Tutup Pintu bagi WNA per 1 Januari 2021

“Ini bukan hanya urusan Pertamina. Ini urusan kita bersama. Tidak ada lempar bola. Tugas kita sama-sama mengurusi masyarakat,” tegasnya.

Ia pun mengimbau masyarakat, khususnya di Denpasar dan Badung, agar tidak berbondong-bondong mendatangi SPBU pada waktu yang bersamaan. Warga yang masih memiliki persediaan BBM diharapkan menunda pengisian hingga kondisi lebih lengang.

“Kalau masih ada minyaknya, tunda dulu, mungkin nanti malam atau besok pagi. Jadi, tidak harus hari ini semua pada jam yang sama sehingga tidak terjadi antrean panjang. Aman, tidak perlu khawatir karena minyaknya ada,” ujarnya.

Lebih lanjut, Koster mengatakan Pertamina bersama jajaran terkait akan mengevaluasi pengelolaan pasokan dan distribusi untuk mengantisipasi kejadian serupa pada masa mendatang. Evaluasi tersebut dilakukan menyusul antrean dan kelangkaan BBM yang mulai dirasakan masyarakat sejak Senin (12/10).

Menurutnya, Bali merupakan etalase Indonesia di mata dunia sehingga persoalan pelayanan publik, termasuk ketersediaan dan distribusi BBM, harus ditangani secara serius dengan manajemen yang baik. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN