Kondisi lahan sawah di Bangli yang mengalami kekeringan. (BP/Dokumen)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dinas Pertanian dan Ketahanan (Distan) Pangan Provinsi Bali menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan di tengah prediksi mundurnya awal musim hujan 2026/2027. Sebanyak 328 ribu hektare lahan pertanian telah dipetakan sebagai wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.

Kepala Distan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, mengatakan pemetaan dilakukan untuk memastikan tanaman tetap memperoleh pasokan air, khususnya pada lahan yang berada dalam fase pertumbuhan dan berisiko mengalami kekurangan air.

“Memang saat ini kita sudah petakan ada 328 ribu hektare yang berpotensi kekeringan. Tetapi ketika tanaman itu berpotensi kekeringan seperti pada fase vegetatif, tetap teratasi dengan menggunakan irpom, dari hasil pemompaan,” ujar Sunada, Rabu (7/10).

Langkah tersebut dilakukan menyusul perkiraan BMKG bahwa awal musim hujan di Bali pada 2026/2027 berpotensi datang lebih lambat, yakni sekitar November hingga Desember 2026. Kondisi itu membuat pengelolaan air menjadi salah satu perhatian dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian.

Baca juga:  Wisdom Mulai Menyeberang ke Bali

Sunada mengatakan, pihaknya juga mengoptimalkan Gerakan Pengendalian (Gerdal) untuk melakukan pemantauan langsung di lapangan. Tim tersebut tidak hanya menangani persoalan kekeringan, tetapi juga melakukan pemetaan terhadap tanaman yang berpotensi terserang hama dan penyakit.

“Namanya Gerdal, gerakan pengendalian, baik itu di lahan maupun di penyakit. Pertanaman kekeringan Gerdal itulah yang turun, dan termasuk ketika ada tanaman padi terserang hama dan penyakit, Gerdal itu turun untuk memetakan,” jelasnya.

Untuk menjaga ketersediaan air, Distan Pangan Bali menyiagakan sekitar 50 unit pompa air. Pompa tersebut dapat digunakan untuk mengambil air dari sungai dan mengalirkannya ke lahan pertanian yang membutuhkan, terutama sawah yang baru ditanami.

“Dan kita punya sekitar 50 pompa air. Air yang ada di sungai kita sedot untuk mengairi sawah. Ada juga yang sebulan baru tanam namun berpotensi kekeringan, kita akan antisipasi agar tidak gagal panen. Itu yang kita lakukan,” ungkap Sunada.

Baca juga:  Musim Kemarau, Tiga Kecamatan di Karangasem Berpotensi Kekeringan dan Kesulitan Air Bersih

Menurutnya, pemetaan potensi kekeringan dilakukan secara bertahap di seluruh Bali. Wilayah seperti Jembrana dan Tabanan juga mulai menjadi bagian dari pemetaan untuk memastikan kondisi pertanaman dapat dipantau sejak dini.

Sunada menegaskan, potensi kekeringan tidak boleh dibiarkan berkembang hingga mengganggu produksi. Karena itu, laporan dari petani maupun penyuluh menjadi penting agar intervensi dapat dilakukan lebih cepat.

“Tolong dilaporkan ke Dinas Pertanian Kabupaten maupun melalui penyuluh pertanian. Dan ketika ada laporan pasti kita tindak lanjuti,” tegasnya.

Di sisi lain, Dinas Pertanian juga terus mendorong peningkatan Indeks Pertanaman (IP). Pada lahan subak yang didukung jaringan irigasi teknis dengan kondisi baik, produktivitas diarahkan agar dapat mencapai tiga kali musim tanam atau panen dalam setahun.

Baca juga:  Pariwisata Budaya

Sementara itu, sawah tadah hujan yang sebelumnya rata-rata hanya dapat ditanami atau dipanen sekali dalam setahun terus didorong agar mampu meningkatkan frekuensinya menjadi dua kali.

Sunada menyebut Bali saat ini telah memasuki musim tanam II periode Oktober-Maret. Dengan kondisi tersebut, kebutuhan air untuk pertanian masih dinilai cukup, namun antisipasi tetap dilakukan untuk menghadapi kemungkinan periode kering yang lebih panjang sebelum hujan kembali merata.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi menjaga produksi pangan Bali agar tidak terganggu akibat perubahan pola musim. Pemetaan lahan, kesiapsiagaan pompa, pemantauan pertanaman serta respons cepat terhadap laporan kekeringan menjadi instrumen yang disiapkan untuk mengurangi risiko gagal panen. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN