Pertunjukan pembuka “Rangga Rasmi” oleh Sanggar Widya Sani Unhi yang mengenakan 12 kain batik pilihan dari Sarinah sebagai bagian dari perayaan Hari Batik Nasional pada pembukaan Kawan Nusantara 2026, di Tirtasada Lobby, The Meru Sanur, Rabu (7/10). (BP/win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Warisan budaya Bali tidak hanya dipertahankan dalam bentuk aslinya, tetapi juga terus mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman. Gagasan tersebut diangkat melalui Kawan Nusantara 2026 bertajuk “Evolusi” yang digelar di The Meru Sanur, Rabu (7/10).

Berbeda dari sekadar memamerkan produk kerajinan, penyelenggara menjadikan subeng, anting-anting tradisional Bali, sebagai medium untuk menceritakan perjalanan sebuah warisan budaya dari masa lalu hingga menemukan bentuk baru di era kontemporer.

Pendiri Tulola, Happy Salma, mengatakan tema yang diusung berangkat dari keyakinan bahwa tradisi dapat terus hidup karena manusia selalu memberikan pemaknaan baru terhadapnya.

“Kami percaya tradisi selalu hidup karena manusia selalu memaknainya kembali. Evolusi adalah cara kami melihat bagaimana tradisi dan nilai-nilai leluhur terus menemukan bentuk baru tanpa kehilangan jiwanya,” ujarnya, Rabu (7/10).

Baca juga:  Puluhan Naker Migran Asal Gianyar Dibantu Urus Paspor

Perempuan yang juga artis nasional ini mengutarakan instalasi utama Kawan Nusantara Bali 2026 menggambarkan perjalanan subeng dalam empat tahapan, yakni Persembahan, Ekspresi, Nilai, dan Transformasi.

Pada tahap Persembahan, subeng ditempatkan dalam konteks spiritual. Representasinya diwujudkan melalui motif yang terinspirasi dari arsitektur padma pada bangunan persembahan Bali. Selanjutnya, pada tahap Ekspresi, subeng dimaknai sebagai ruang ekspresi estetik melalui perpaduan motif bunga lotus dan tanaman rambat.

Memasuki tahap Nilai, subeng digambarkan telah berkembang ke ruang sosial dan ekonomi. Motif keranjang dan bunga lili digunakan untuk merepresentasikan fase tersebut. Sementara pada tahap Transformasi, subeng ditampilkan dalam bentuk yang lebih kontemporer dengan elemen tipografi bertuliskan “Evolusi”.

Ditambahkan desainer perhiasan, Sri Luce Rusna, pemilihan subeng tidak terlepas dari riset mengenai perubahan fungsi ornamen tersebut.

Baca juga:  Happy Salma dan Sri Luce Jadikan Bali Sumber Inspirasi Berkarya

“Kami ingin menunjukkan bahwa tradisi tidak berhenti pada bentuk aslinya. Ia terus berkembang bersama manusia,” katanya.

Menurutnya, perjalanan subeng memperlihatkan bagaimana sebuah benda yang pada masa lalu memiliki konteks spiritual kemudian berkembang menjadi bagian dari ekspresi estetika, memiliki nilai sosial-ekonomi, hingga diterjemahkan dalam desain kontemporer.

Konsep tersebut juga diperkuat melalui pertunjukan pembuka “Rangga Rasmi” oleh Sanggar Widya Sani Universitas Hindu Indonesia (Unhi). Dalam pertunjukan tersebut, para penampil mengenakan 12 kain batik pilihan dari Sarinah sebagai bagian dari perayaan Hari Batik Nasional.

Kawan Nusantara Bali 2026 sekaligus menghadirkan koleksi Artwear “Evolusi” yang terdiri atas 48 karya, mulai dari anting, subeng, bros, sirkam, kalung hingga gelang. Sejumlah motif yang diangkat antara lain Canang, Macan, Sinar, Bunga dan Kupu-kupu.

Baca juga:  Pagerwesi di Masa Pandemi COVID-19, Krama di Buleleng Tetap Gelar Tradisi Mamunjung

Salah satu karya yang turut mendapat perhatian adalah “Heroes of Heritage”, kolaborasi Bakti BCA dan Tulola dengan perajin Desa Wisata Taro, Bali, I Made Suama dan Ketut Daging. Tradisi pembuatan pratima atau benda suci diterjemahkan ke dalam bentuk perhiasan.

Selain itu, ditampilkan pula Keris Wibawa Gunung Raung karya I Komang Sudena serta Keris Sabdha Dharma karya seniman Bali I Made Arsanata.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan, sinergi multipihak menjadi kunci untuk mendorong industri kreatif terus berkembang, sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi para pelaku usaha lokal. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN