
GIANYAR, BALIPOST.com – Upaya mencari talenta sepak bola putri dilakukan sejak sekolah dasar. Sebanyak 211 siswi dari sejumlah SD di Bali mengikuti program pembinaan, Bali United Women Development Festival 2026 di Bali United Training Center, Gianyar, Jumat (2/10).
Festival tersebut menjadi bagian dari program pembinaan sepak bola putri yang telah berlangsung selama tiga bulan. Sebelumnya, 254 siswi dari 37 SD di Kabupaten Gianyar, Karangasem, dan Kota Denpasar mengikuti latihan sejak 14 Juni hingga 25 September 2026.
Dalam prosesnya, jumlah peserta yang bertahan hingga program berakhir menyusut menjadi 211 siswi. Mereka kemudian mengikuti festival sebagai ajang untuk merasakan suasana kompetisi sekaligus menerapkan kemampuan yang didapat selama menjalani latihan.
Perwakilan Manajemen Bali United Academy, Richi Kurniawan, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sepak bola kepada anak perempuan sejak usia dini.
“Festival ini merupakan puncak daripada pembinaan dan pengembangan potensi bakat sepak bola wanita yang ada di Pulau Bali dengan menyasar para siswi SD. Memang secara data ada pengurangan jumlah minat, namun kami melihat sepanjang tiga bulan terakhir berlatih di Bali United Training Center semangat anak-anak putri ini tetap terlihat,” ujar Richi.
Menurut dia, pembinaan sejak usia muda diharapkan dapat membuka ketertarikan peserta untuk terus menekuni sepak bola, termasuk kemungkinan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.
Program pembinaan ini juga tidak berhenti setelah festival. Para peserta masih mendapat kesempatan berlatih selama tiga bulan berikutnya sebelum kembali mengikuti festival edisi selanjutnya.
Program tersebut juga terbuka untuk dikembangkan dengan melibatkan peserta dari kabupaten lain di Bali.
Sementara itu, Head Youth Development Bali United, I Gde Mahatma Dharma atau Coach Dede, menjelaskan format pertandingan disesuaikan dengan kemampuan para peserta.
Dari 211 siswi, mereka dibagi menjadi 16 tim yang terbagi dalam empat grup. Pertandingan menggunakan sistem single round robin dengan dua kategori, yakni Tier A dan Tier B. Pembagian tersebut didasarkan pada kemampuan serta pemahaman peserta dalam menerapkan teknik dasar sepak bola.
Setiap pertandingan dimainkan dengan format 8 lawan 8 dan berlangsung selama 1×15 menit. Format tersebut dibuat agar peserta mendapat kesempatan bermain sekaligus mengenal atmosfer kompetisi.
“Harapan kami festival ini tidak berhenti di sini, melainkan memberi dampak bagi personal pemain itu sendiri maupun pengembangan sepak bola putri di masa depan, khususnya dari Pulau Bali,” kata Coach Dede.
Selama mengikuti program tiga bulan, para peserta juga mendapat bola untuk digunakan berlatih di rumah maupun di sekolah. Dengan demikian, latihan tidak hanya berlangsung saat sesi bersama pelatih, tetapi dapat diteruskan secara mandiri. (Suka Adnyana/balipost)










