Bali-Timor Leste Business Forum 2026 yang berlangsung di Awan Auditorium 3, Tsinghua Southeast Asia Center, Serangan, Denpasar, Bali, Jumat (2/10). (BP/Istimew

DENPASAR, BALIPOST.com – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Republik Indonesia, Natalius Pigai, menghadiri sekaligus memberikan sambutan pada Bali-Timor Leste Business Forum 2026 yang berlangsung di Awan Auditorium 3, Tsinghua Southeast Asia Center, Serangan, Denpasar, Bali, Jumat (2/10).

Mengusung tema “Memperkuat Kemitraan Ekonomi Indonesia–Timor Leste melalui Investasi Berkelanjutan, Perdagangan, Inovasi, dan Kolaborasi Keuangan”, forum tersebut menjadi wadah pertemuan antara pemerintah, dunia usaha, investor, akademisi, pelaku UMKM, serta berbagai pemangku kepentingan dari Indonesia dan Timor Leste.

Dalam sambutannya, Menteri HAM menekankan pentingnya menjaga hubungan baik antara Indonesia dan Timor Leste sebagai dua negara bertetangga. Menurut Pigai, hubungan kedua negara perlu terus dibangun atas dasar persahabatan, persaudaraan, kepedulian, dan sikap saling membantu, tidak hanya dalam kepentingan ekonomi, tetapi juga dalam membangun hubungan yang tulus dan saling menopang.

“Karena kita tetangga, maka yang pertama adalah menjaga hubungan persahabatan, persaudaraan, dan cinta kasih secara tulus,” ujar Pigai didampingi Koordinator Wilayah Kerja Bali, Anak Agung Gede Ngurah Dalem.

Baca juga:  Dua Dapur Warga Rusak Akibat Tanah Longsor

Pigai juga menekankan bahwa pengembangan ekonomi perlu berjalan seiring dengan pengelolaan sumber daya nasional secara bertanggung jawab. Menurutnya, pemanfaatan sumber daya perlu memperhatikan keberlanjutan, perlindungan lingkungan, serta dampaknya terhadap masyarakat.

Dalam konteks hubungan Indonesia dan Timor Leste, ia melihat Bali memiliki potensi untuk menjadi bagian dari pengembangan kerja sama yang lebih luas, termasuk melalui penguatan aktivitas ekonomi, keuangan, dan pariwisata.

Selain itu, Pigai menyoroti pentingnya penerapan prinsip Bisnis dan HAM dalam perkembangan investasi dan kegiatan usaha. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi perlu diiringi dengan penghormatan dan perlindungan terhadap HAM, termasuk perlindungan hak pekerja serta pencegahan dampak negatif kegiatan usaha terhadap lingkungan dan masyarakat.

“Bisnis dan HAM perlu menjadi perhatian para pelaku usaha agar kegiatan ekonomi tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga memberikan perlindungan terhadap hak-hak para pihak yang terdampak,” ujar Pigai.

Ia menyampaikan bahwa dirinya telah mengajukan kepada Presiden Republik Indonesia terkait rancangan Peraturan Presiden tentang Bisnis dan HAM. Menurutnya, penguatan agenda Bisnis dan HAM menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem usaha yang kondusif sekaligus memastikan kegiatan ekonomi berjalan dengan tetap menghormati hak-hak masyarakat.

Baca juga:  Hormati Jasa Pejuang, Kodam Perbaiki TMP di Baucau

Sementara itu, Senator DPD/MPR RI Provinsi Bali, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna M. Wedasteraputra Suyasa III, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya memanfaatkan berbagai peluang kerja sama antara Indonesia dan Timor Leste.

Arya Wedakarna menilai forum tersebut menjadi ruang strategis untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan sekaligus membangun komitmen dalam memperkuat hubungan kedua negara. Menurutnya, forum tersebut dapat menjadi sarana untuk membuka peluang kerja sama yang lebih luas, khususnya dalam menghadapi berbagai dinamika dan peluang Indonesia dan Timor Leste di tingkat internasional.

Senada dengan hal tersebut, Menteri Perdagangan dan Perindustrian Timor Leste, Marcos da Cruz, turut menyampaikan pentingnya memanfaatkan berbagai peluang yang terbuka melalui hubungan kerja sama antara Indonesia dan Timor-Leste.

Baca juga:  Perampok MC di Tohpati Mulai Diadili

Dalam sambutannya, Marcos da Cruz menekankan pentingnya memperkuat hubungan dan kerja sama yang telah terjalin antara kedua negara, khususnya dalam membuka peluang perdagangan, investasi, dan kemitraan ekonomi. Ia menilai forum tersebut menjadi ruang penting bagi pemerintah dan pelaku usaha kedua negara untuk bertemu, bertukar gagasan, serta mengidentifikasi berbagai peluang kerja sama yang dapat dikembangkan.

Bali–Timor Leste Business Forum 2026 selanjutnya dilanjutkan dengan panel diskusi yang membahas tiga pilar utama, yaitu Blue Economy, Green Economy, dan Gold Economy. Sejumlah isu yang dibahas meliputi kemitraan strategis, perdagangan bilateral, investasi, ekonomi kelautan dan perikanan, konektivitas maritim, pariwisata berkelanjutan, perlindungan lingkungan, pertanian, pendidikan, kerja sama keuangan, serta penguatan kemitraan sektor swasta.

Melalui forum tersebut, Indonesia dan Timor Leste diharapkan dapat terus memperkuat hubungan bilateral serta membuka ruang kerja sama yang memberikan manfaat bagi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat kedua negara. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN