
SINGASANA, BALIPOST.com – Sebanyak 95 kejadian kebakaran tercatat terjadi di Kabupaten Tabanan sepanjang periode Januari hingga 22 September 2026 dengan nilai total kerugian mencapai Rp 4,22 miliar. Data Satpol PP Kabupaten Tabanan menunjukkan, kasus kebakaran paling banyak terjadi pada Agustus dengan 27 kejadian, disusul Juli sebanyak 19 kejadian dan September 17 kejadian.
Kepala Bidang Penanggulangan Kebakaran Satpol PP Kabupaten Tabanan, I Wayan Suakta, mengatakan kejadian kebakaran tersebut tersebar di seluruh wilayah Tabanan dengan berbagai objek yang terbakar, mulai dari lahan dan ilalang, sampah, rumah, kandang ayam, hingga bangunan lainnya. “Dari data yang kami catat sampai 22 September 2026, ada 95 kejadian kebakaran,” ujar Suakta.
Berdasarkan rekapitulasi, kasus kebakaran mulai meningkat memasuki pertengahan tahun. Pada Januari tercatat tiga kejadian, Februari lima kejadian, Maret tiga kejadian dan April dua kejadian.
Selanjutnya, pada Mei terjadi tujuh kejadian, Juni 12 kejadian, Juli 19 kejadian, Agustus menjadi bulan dengan kasus tertinggi sebanyak 27 kejadian, sedangkan hingga 22 September tercatat 17 kejadian.
Jika dilihat berdasarkan wilayah, Kecamatan Kediri mencatat kejadian terbanyak dengan 40 kasus. Berikutnya Kecamatan Tabanan sebanyak 21 kasus, Kerambitan sembilan kasus, Marga dan Penebel masing-masing enam kasus, Baturiti lima kasus, Pupuan empat kasus, serta Selemadeg Timur dan Selemadeg Barat masing-masing dua kasus.
Dari jenis objek yang terbakar, ilalang menjadi salah satu objek yang paling banyak tercatat, yakni 20 kejadian. Kebakaran sampah sebanyak 11 kejadian, rumah sembilan kejadian, lahan kosong enam kejadian dan gerombong genteng enam kejadian. Suakta mengatakan, penyebab kebakaran masih cukup banyak yang belum diketahui dan masih dalam proses penyelidikan.
Sementara sejumlah kejadian lainnya diketahui berkaitan dengan aktivitas pembakaran. Di antaranya pembakaran genteng sebanyak lima kejadian, korsleting listrik empat kejadian, penggunaan dupa tiga kejadian, pembakaran sampah dua kejadian, kebocoran tabung gas dua kejadian serta beberapa penyebab lainnya.
“Penyebabnya beragam. Ada yang masih dalam penyelidikan, ada juga yang sudah diketahui seperti korsleting, pembakaran sampah, pembakaran genteng dan kebocoran tabung gas,” jelasnya.
Suakta mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama ketika melakukan aktivitas yang berkaitan dengan api. Kondisi lingkungan yang kering akibat kemarau juga dapat mempercepat penyebaran api, khususnya pada kebakaran lahan dan ilalang. “Jika melihat titik api atau kejadian kebakaran diharapkan segera laporkan ke kami agar petugas bisa cepat lakukan penanganan sedini mungkin dan mencegah api meluas,”pungkasnya. (Dewi Puspawati/balipost)










