
SINGARAJA, BALIPOST.com – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Pemerintah Kabupaten Buleleng terus mendorong peningkatan kreativitas dan keterampilan anggotanya. Upaya tersebut diwujudkan melalui pertemuan rutin bulanan yang dikemas dengan kegiatan edukatif berupa demo memasak dan pelatihan olahan kuliner.
Kali ini, anggota DWP Buleleng mendapat pelatihan membuat kue bakpao. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Singaraja, Selasa (15/9), tersebut diikuti seluruh anggota DWP Buleleng. Selain menambah keterampilan, kegiatan juga berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kebersamaan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Buleleng, Gede Suyasa, yang juga selaku Penasihat DWP Buleleng, mengatakan keberadaan komunitas memiliki peran penting dalam membentuk sikap dan perilaku anggotanya. Menurutnya, setiap komunitas memiliki norma yang menjadi pedoman bersama dalam berinteraksi.
“Setiap komunitas akan membuat norma dan setiap norma akan menjaga mereka. Karena itu, kita semua membutuhkan komunitas. Dharma Wanita Persatuan merupakan salah satu komunitas yang secara resmi dibentuk oleh negara,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DWP Buleleng, Ny. Dewi Suyasa, mengatakan pertemuan rutin bulanan tidak hanya menjadi wadah silaturahmi bagi anggota. Pertemuan tersebut juga dimanfaatkan sebagai ruang untuk berbagi pengetahuan sekaligus mengembangkan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, setiap pertemuan DWP diupayakan memiliki kegiatan edukatif sehingga anggota tidak hanya mendapatkan manfaat dari sisi kebersamaan, tetapi juga memperoleh wawasan dan keterampilan baru.
“Selain ajang silaturahmi, kami ingin setiap pertemuan membawa nilai tambah, baik dalam hal pengetahuan maupun keterampilan,” ungkapnya.
Kegiatan pelatihan kali ini dilaksanakan oleh Bidang Ekonomi DWP Buleleng melalui demo memasak dan praktik langsung pembuatan bakpao. Anggota tidak hanya menyaksikan proses pengolahan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan pembuatan olahan kuliner tersebut.
Ny. Dewi Suyasa berharap keterampilan yang diperoleh dalam pelatihan dapat diterapkan anggota di lingkungan keluarga. Pembuatan bakpao, kata dia, dapat menjadi salah satu alternatif untuk menyediakan makanan atau camilan sehat bagi keluarga dengan mengolah bahan secara mandiri.
Di sisi lain, keterampilan tersebut juga berpotensi dikembangkan menjadi usaha rumahan. Dengan kreativitas dan pengelolaan yang baik, olahan kuliner sederhana dapat menjadi peluang ekonomi tambahan bagi keluarga.
“Harapannya, keterampilan yang didapat tidak berhenti pada kegiatan ini saja, tetapi bisa diterapkan di rumah dan kalau memungkinkan dikembangkan menjadi peluang usaha,” ujarnya. (Yudha/balipost)










