
JAKARTA, BALIPOST.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (14/9) bergerak melemah 58 poin atau 0,33 persen menjadi Rp17.669 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.611 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kenaikan Consumer Price Index (CPI) AS.
“Data inflasi bulan Agustus menunjukkan kenaikan indeks harga konsumen inti sebesar 0,3 persen secara bulanan (tidak termasuk biaya pangan dan energi),” ucapnya dilansir dari Kantor Berita Antara.
Mengutip Xinhua, kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK)/CPI AS secara tahunan mencapai 3,4 persen. IHK inti, yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi yang fluktuatif, tercatat sebesar 2,4 persen.
Menurut Ibrahim, kenaikan tersebut memperkuat perkiraan bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin akan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pada pertemuan pekan ini.
Pasar kini disebut memperhitungkan adanya kemungkinan sekitar 88 persen bagi kenaikan suku bunga di bulan September.
“Kenaikan suku bunga juga dapat memicu ketegangan politik bagi The Fed. Presiden Donald Trump kembali menyerukan penurunan suku bunga pada hari Minggu (13/9), melanjutkan kritik terbarunya terhadap sikap kebijakan bank sentral tersebut,” ungkap dia.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.635 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.611 per dolar AS. (kmb/balipost)










