Sejumlah karyawan Perusda BMB sedang membersihkan panel surya di PLTS Bangklet. (BP/ina)

BANGLI, BALIPOST.com – Pemkab Bangli tengah melakukan kajian terkait rencana pengalihan pengelolaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kepada PLN. Ditargetkan proses pengalihan pengelolaan ini dapat terealisasi secepatnya.

Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta mengatakan ide pengalihan pengelolaan PLTS yang digagas Gubernur Bali ini sangat bagus. Mengingat Pemkab Bangli tidak memiliki SDM yang membidangi energi tenaga surya.

“Beliau berharap pemerintah daerah tidak mengurus yang bukan profesionalnya,” ujarnya ditemui usai rapat paripurna di DPRD Bangli belum lama ini.

Lebih lanjut Sedana Arta menyatakan Sekretaris Daerah (Sekda) bersama jajarannya tengah melakukan kajian terkait rencana pengalihan pengelolaan PLTS tersebut. Kondisi fasilitas PLTS saat ini mengalami banyak kerusakan pada komponen utama.

Baca juga:  Puluhan Warga di Desa Kutuh Belum Nikmati Listrik

“Kalau hasil kajian rusak berat bisa nantinya dapat dihapuskan dari daftar aset. Sementara untuk lahannya, berdasarkan kajian KPKNL Pemkab Bangli berpeluang memperoleh pemasukan daerah melalui mekanisme sewa lahan oleh PLN,” jelasnya.

Sedana Arta mengakui, operasional PLTS oleh perseroda BMB saat ini terbilang tidak efisien. Hasil penjualan listrik hanya berkisar Rp300 juta per tahun.

Disinggung mengenai target pengalihan, Sedana Arta menegaskan prosesnya dipatok secepat mungkin sesuai arahan gubernur. “Target gubernur secepatnya. Semakin cepat, PLN kan semakin cepat bisa ambil alih,” pungkasnya.

Baca juga:  Koster Ingatkan Pemadaman Listrik Tak Berlanjut saat Umat Hindu Rayakan Kuningan

Sebagaimana yang diketahui PLTS yang berkapasitas 1 MWpb tersebut saat ini tidak dapat menghasilkan listrik secara optimal. Kendala utamanya disebabkan oleh kerusakan sebagian besar unit inverter akibat tersambar petir yang hingga kini belum mendapatkan perbaikan.

Kondisi itu berpengaruh pada pendapatan yang diterima dari hasil penjualan listrik ke PLN. PLTS yang sebenarnya mampu menghasilkan pendapatan Rp75 juta hingga Rp90 juta per bulan, kini hanya mampu menghasilkan sekitar Rp15 juta per bulan.

Kabag Ekonomi Setda Bangli Dwi Wahyuni mengungkapkan turunnya produksi listrik PLTS dipicu oleh rusaknya mayoritas komponen inverter pada fasilitas yang dibangun pada 2013 tersebut. Dari total 50 unit inverter yang ada, saat ini hanya 14 unit yang masih aktif berfungsi. “Sisanya rusak. Karena pada April lalu kena sambaran petir sehingga menambah jumlah inverter yang rusak,” ungkapnya, beberapa waktu lalu.

Baca juga:  PLN Raih Penghargaan dari Pemkab Badung

Pada awal beroperasi tahun 2013, PLTS Bangli yang berlokasi di Dusun Bangklet, Desa Kayubihi itu mampu memproduksi listrik 1.210.013 kWh. Saat ini, produksinya hanya 22.564 kWh.

Dwi Wahyuni menjelaskan bahwa perbaikan inverter tidak bisa dilakukan dengan cepat karena perangkat PLTS yang dibangun tahun 2013 lalu itu memiliki komponen yang berat, dan suku cadangnya sudah tidak tersedia lagi di pasaran. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN