
SEMARAPURA, BALIPOST.com – Suasana khidmat sekaligus semarak terlihat di Banjar Pidada, Desa Suana, Nusa Penida, Klungkung, Senin (7/9). Krama Paibon Bedauh yang berjumlah 39 kepala keluarga ini melaksanakan sejumlah rangkaian upacara serangkaian Karya Ngenteg Linggih, Mamungkah, Mapadudusan, Wrahaspati Kalpa Agung Panca Rupa Panca Kelud Pamrajan Arya Kanuruhan atau Pangeran Tangkas Kori Agung.
Salah satu prosesi yang menarik perhatian yakni pelaksanaan Melasti yang diiringi tradisi mepeed. Krama istri berjalan beriringan dari Pura Paibon menuju Pura Segara Desa Adat setempat yang berjarak sekitar 400 meter.
Prosesi tersebut menjadi bagian dari pengiringan Ida Bhatara Sesuhunan menuju segara atau pantai untuk menjalani prosesi Melasti. Puluhan krama istri berjalan dalam dua baris secara teratur sembari menjunjung gebogan berisi buah-buahan dan berbagai jajan tradisional Bali.
Gebogan tersebut dihiasi janur dengan bentuk dan ornamen yang seragam. Penampilan para krama istri semakin terlihat anggun dengan balutan kebaya putih dan kamben serta selendang berwarna merah.
Ketua Panitia Karya, I Wayan Budi Mustika, mengatakan mepeed menjadi salah satu bagian dari pelaksanaan Melasti serangkaian Karya Ngenteg Linggih Paibon Bedauh. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi bentuk pelestarian budaya, tetapi juga memiliki makna spiritual dan nilai kehidupan bagi umat Hindu.
“Mepeed menjadi bagian dari upacara Melasti sebagai ungkapan rasa syukur kami sebagai penyungsung ida sesuhunan kami di Paibon Bedauh,” ujarnya.
Menurut Budi Mustika, mepeed mengandung nilai sradha dan bhakti kepada sesuhunan. Prosesi tersebut juga menjadi bagian dari pelaksanaan yadnya yang dilakukan dengan tulus dan ikhlas.
Selain itu, tradisi mepeed mengajarkan etika yang berlandaskan ajaran Tri Kaya Parisudha, yakni menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Selain Melasti yang diiringi mepeed, pada hari tersebut juga dilaksanakan sejumlah prosesi lainnya, yakni Memasar, Memendak Siwi, dan Ngaturang Dapetan.
Budi Mustika menjelaskan, upacara Memasar bertujuan memohon keselamatan dan kemakmuran bagi masyarakat, terutama berkaitan dengan pertanian dan kehidupan sehari-hari. Prosesi ini juga dimaknai sebagai permohonan agar umat memperoleh berkat dan hasil yang melimpah.
Sementara, Memendak Siwi dilaksanakan untuk memohon keselamatan dan kekuatan bagi seluruh krama. Prosesi tersebut menjadi bentuk permohonan perlindungan dan berkat dari Ida Bhatara Sesuhunan.
Sedangkan Ngaturang Dapetan merupakan ungkapan rasa syukur atas hasil yang telah diperoleh, baik berupa panen yang melimpah maupun keberhasilan lainnya. Melalui prosesi ini, krama menghaturkan terima kasih sekaligus memohon agar hasil yang diperoleh dapat dimanfaatkan dengan baik.
Seluruh rangkaian upacara tersebut dipuput oleh Ida sulinggih.
Karya Ngenteg Linggih Paibon Bedauh ini telah berlangsung sejak 12 Agustus 2026 dan dijadwalkan berakhir pada 13 September 2026. Puncak karya akan dilaksanakan pada Rabu (9/9).
Salah satunya, pada Jumat (4/9), dilaksanakan upacara Mecaru Panca Rupa-Panca Kelud, Melaspas Wewangunan Mapadudusan Alit, Mendem Pedagingan, dan Pengingkupan. Prosesi tersebut turut dihadiri langsung oleh Bupati Klungkung, I Made Satria.
Setelah puncak karya pada Rabu (9/9), rangkaian upacara berlanjut pada Sabtu (12/9). Pada hari tersebut dijadwalkan pelaksanaan Makebat Daun, Nyenuk, Penyineban, Nuek Bagia Pula Kerti, Rsi Bhojana, dan Nunas Tirta Pengenduh.
Seluruh prosesi tersebut menjadi bagian dari tahapan penutup karya. Sementara rangkaian terakhir akan dilaksanakan pada Minggu (13/9) melalui Nyegara Gunung lan Meajar-ajar.
“Astungkara seluruh rangkaian upacara karya kami berjalan dengan lancar,” harapnya. (Ketut Winata/balipost)










