
BANGLI, BALIPOST.com – Jarak tempuh yang jauh menuju Kintamani masih menjadi kendala utama Tim Pemadam Kebakaran (Damkar) BPBD Bangli dalam merespons musibah kebakaran secara cepat. Petugas Damkar membutuhkan waktu hingga 30 menit dari pos damkar Kubu menuju Kintamani.
Contohnya, saat insiden kebakaran di kawasan taman wisata alam (TWA) Blok Seked beberapa waktu lalu, armada membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai di lokasi. Melampaui Standar Operasional Prosedur (SOP) yang mematok waktu maksimal 15 menit.
“SOP kita 15 menit, tapi ke Kintamani butuh setengah jam meski mobil sudah ngebut. Ibaratnya, kalau tidak apinya yang mati, kita yang ‘mati’ di jalan,” ungkap Kabid Pemadam Kebakaran BPBD-Damkar Bangli, Cokorda Lanang Mahendra, Selasa (1/9).
Selain masalah waktu tempuh, pasokan air di lapangan juga menjadi tantangan tersendiri. Untuk memadamkan api Damkar Bangli mengandalkan hidran dan bantuan pasokan air dari perusahaan air minum Sangsang. Pihaknya tidak mengambil air langsung dari Danau Batur karena kandungan pasirnya dapat merusak mesin pompa armada.
“Untuk penanganan biasanya kami kirim satu mobil BW dan armada supply. Kapasitasnya 8.000 liter. Kalau kurang, baru kita datangkan unit BW tambahan,” jelasnya.
Terkait kondisi tersebut, Cok Mahendra menilai keberadaan hidran serta pembentukan pos atau unit damkar di wilayah Kintamani sangat diperlukan. Dorongan pengadaan pos ini juga sempat disuarakan oleh anggota DPRD Bangli. Namun, untuk merealisasikan pos damkar di Kintamani, pihaknya terkendala keterbatasan personel. Satu pos minimal membutuhkan satu regu yang terdiri dari 10 orang. Saat ini, jumlah anggota Damkar Bangli masih sangat minim.
“Saat pemadaman di lapangan, personel harus terbagi di posisi selang depan, tengah, dan operator. Kalau ada kebakaran besar dan ada anggota yang libur, terpaksa kita panggil untuk membantu pemadaman,” terangnya.
Disinggung mengenai kemungkinan penempatan armada di Kintamani selama musim kemarau, pihaknya menegaskan untuk saat ini seluruh armada tetap harus disiagakan di pos damkar Kubu. Hal itu dilakukan agar pelayanan dan jangkauan untuk wilayah Bangli Selatan, Timur, dan Barat tetap seimbang dan tercover dengan baik.
“Hal itu sempat dikemukanan pecalang Batur saat kebakaran pertama di blok seked. Apakah bisa distanby-kan di kintamani. Itu bagus namun kami juga harus tetap memperhatikan Bangli Selatan, timur dan barat. Kalau kita standby di kintamani, kemudian ada kejadian di Bangli selatan ya susah juga dari Kintamani ke selatan,” pungkasnya. (Dayu Swasrina/balipost)










