
JAKARTA, BALIPOST.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (27/8) bergerak melemah 19 poin atau 0,11 persen menjadi Rp17.744 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.725 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi dilansir dari Kantor Berita Antara mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE, Pengeluaran Konsumsi Pribadi) AS yang sesuai konsensus pasar.
“Secara bulanan, Indeks Harga PCE dan Indeks Harga PCE inti keduanya naik sebesar 0,2 persen pada bulan Juli,” ungkapnya.
Laporan ini muncul setelah rilis data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI)) dan Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) bulan Juli yang relatif moderat.
Fokus pasar hari ini adalah rilis data klaim awal tunjangan pengangguran mingguan, serta pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole pada hari Jumat (28/6/2026).
Pergerakan rupiah turut dipengaruhi potensi pembukaan kembali Selat Hormuz seiring pembicaraan antara Iran dan Qatar, sehingga dapat mengurangi gangguan pasokan akibat perang di Timur Tengah.
Hal ini menyusul pernyataan Garda Revolusi Iran bahwa kedua negara telah menyepakati pembagian akses serta pendapatan dari jalur perairan yang menghubungkan negara-negara produsen minyak utama di kawasan Teluk dengan pasar dunia tersebut.
“Iran dan Oman sedang memfinalisasi perincian kesepakatan untuk mengendalikan Selat Hormuz,” kata Ibrahim.
Kendati begitu, konflik antara Iran dengan AS masih belum mereda. Para pejabat Iran juga menyatakan bahwa selat tersebut tidak akan dibuka kecuali AS memenuhi persyaratan Teheran berdasarkan kesepakatan gencatan senjata sementara yang dicapai pada bulan Juni.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp17.762 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.717 per dolar AS. (kmb/balipost)










