Ilustrasi pemanfaatan PLTS Atap. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Gubernur Bali, Wayan Koster menegaskan Bali harus membangun kemandirian energi untuk menjamin keberlanjutan pembangunan sekaligus mengantisipasi risiko ketergantungan pasokan listrik dari luar daerah. Kemandirian tersebut, menurut Koster, harus dibangun dengan mengedepankan energi bersih dan ramah lingkungan.

Koster mengatakan, saat ini kebutuhan dan kapasitas sistem kelistrikan Bali berada di kisaran 1.450 megawatt (MW). Sebagian pasokan listrik Bali masih diperoleh dari Jawa melalui jaringan kabel bawah laut.

Menurutnya, ketergantungan terhadap pasokan melalui kabel bawah laut memiliki risiko tersendiri. Karena itu, Bali perlu memiliki sumber pembangkit listrik sendiri dengan kapasitas yang memadai, sekaligus beralih secara bertahap ke sumber energi yang lebih bersih.

Baca juga:  Luh Putu Satya Putri Mariantini Bandem, Perenang Klungkung Wakili Indonesia ke Filipina

“Bali ini harus betul-betul mandiri energi. Dan bukan sekadar energi, tetapi energi bersih, energi yang ramah lingkungan,” tegas Gubernur Koster dalam Rapat Paripurna ke-47 DPRD Provinsi Bali Masa Persidangan III Tahun Sidang 2025-2026, bertepatan dengan puncak peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali, di Ruang Sidang Utama Kantor DPRD Bali, Jumat (14/8).

Ia menyampaikan, pembangunan pembangkit energi bersih untuk memperkuat sistem kelistrikan Bali telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero). Pembangunan tersebut dirancang secara bertahap mulai 2026.

Pada tahap awal, direncanakan pembangunan pembangkit dengan kapasitas sekitar 200 MW pada 2026. Kapasitas tersebut kemudian akan ditambah sekitar 450 MW pada tahun berikutnya. Pengembangan pembangkit energi bersih akan terus dilakukan hingga 2032.

Baca juga:  Tiga Hari ke depan, Ini Ramalan BMKG

Secara keseluruhan, tambahan kapasitas pembangkit yang direncanakan dalam rangka memperkuat kemandirian energi Bali ditargetkan mencapai sekitar 1.550 MW.

Dengan penambahan tersebut, Gubernur Koster menargetkan total ketersediaan energi listrik Bali nantinya dapat mencapai sekitar 3.000 MW. Kapasitas tersebut diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat, tetapi juga menopang pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Bali dalam jangka panjang.

Koster menilai ketersediaan energi menjadi salah satu fondasi penting bagi pembangunan Bali. Pertumbuhan sektor pariwisata, industri, transportasi, layanan publik, hingga kebutuhan rumah tangga akan terus meningkatkan kebutuhan listrik.

Karena itu, pembangunan energi Bali tidak cukup hanya mengejar tambahan kapasitas. Menurut Koster, arah pengembangannya harus sekaligus menjaga lingkungan dan mendukung transformasi Bali menuju pembangunan yang berkelanjutan.

Baca juga:  Pengurus HKTI Bali akan Perjuangkan Petani dari Hulu ke Hilir

“Bukan sekadar energi, tetapi energi bersih, energi yang ramah lingkungan,” ujarnya.

Langkah memperkuat pembangkit di dalam Bali sekaligus pengembangan energi bersih tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menjaga ketahanan energi. Dengan sistem kelistrikan yang lebih kuat dan sumber energi yang semakin beragam, Bali diharapkan tidak terlalu bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Kemandirian energi ini juga dinilai penting untuk memastikan pembangunan Bali dapat berlangsung secara berkelanjutan, sejalan dengan visi pembangunan jangka panjang yang menempatkan kelestarian alam sebagai salah satu fondasi utama. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN