Penutupan Batur Village Festival 2026 di Jaba Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Sabtu (8/8). (BP/Ina)

BANGLI, BALIPOST.com – Palinggih Dane Jero Gede Duhuran Batur menegaskan bahwa kebertahanan dan kebangkitan Desa Adat Batur pasca kejadian erupsi Gunung Batur 1926 merupakan buah dari jalinan kekerabatan yang erat antara Batur dengan pemerintah, puri, serta desa-desa sahabat.

Hal tersebut disampaikan Jero Gede Duhuran Batur pada penutupan Batur Village Festival 2026 yang digelar serangkaian peringatan 100 Tahun Rarud Batur di Jaba Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, Sabtu (8/8).

“Semua yang telah dilalui Batur selama ini, hingga kami bisa bertahan dari bencana adalah buah dari hubungan yang lekat dengan berbagai unsur, yang telah dilakukan sejak lama oleh leluhur kami. Sekarang kami sebagai generasi muda sudah sewajarnya untuk meneraskan jejak leluhur tersebut,” kata Jero Gede Duhuran Batur.

Baca juga:  Empati Bencana, Anggota DPRD Gianyar Desak Pemerintah Tiadakan Pesta Kembang Api Tahun Baru

Oleh karena itu, pihaknya tidak henti-hentinya memohon untuk meningkatkan hubungan baik ini sebagai piranti ayah-ayahan yang utama kepada Ida Bhatari. Mewakili masyarakat Jero Gede Batur mengucapkan terima kasih atas segala upaya dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan.

“Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa memberi anugerah, sehingga semua tanaman menghasilkan panen yang baik dan semua pekerjaan berpahala yang baik,” katanya.

Terkait pelaksanaan festival, Jero Gede Batur mengucapkan terima kasih atas sumbangsih semua pihak selama pelaksanaan Batur Village Festival yang merupakan rangkaian 100 Tahun Rarud Batur. “Seperti yang telah diketahui, bahwa Peringatan 100 Tahun Rarud Batur merupakan kegiatan yang digelar sebagai momentum mengingat perjuangan leluhur Batur bertahan dan bangkit pasca-erupsi Gunung Batur pada 1926,” ujar Jero Gede Batur.

Baca juga:  Gempa Tremor Non Harmonik Kembali Muncul, Jika Berlanjut Tanda Erupsi

Pada acara penutupan festival tersebut, Desa Adat Batur menganugerahkan penghargaan kepada dua desa dan tiga orang seniman yang berkontribusi besar pada Desa Adat Batur. Ada dua kategori anugerah yang diberikan langsung oleh Palinggih Dane Jero Gede Duhuran Batur itu. Keduanya adalah “Batur Paramanugraha” dan “Batur Kawinugraha”.

“Batur Paramanugraha” adalah penghargaan tertinggi yang diberikan kepada Desa Adat Bayung Gede dan Desa Adat Kintamani sebagai ucapan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya atas sumbangsih dan peran serta yang luar biasa dari kedua desa adat tersebut dalam upaya evakuasi serta relokasi Desa Adat Batur dan Pura Ulun Danu Batur pasca-peristiwa Rarud Batur 1926. Sedangkan “Batur Kawinugraha” diberikan kepada tiga orang seniman yang telah berkontribusi dalam pemajuan kebudayaan Batur. Tiga seniman tersebut yakni Pande Putu Abdi Jaya Prawira, S.S., M.Hum. (sastrawan), Dr. I Wayan Suharta, S.S.Kar, M.Si. (seniman karawitan), dan Prof. Dr. Ida Ayu Trisnawati, S.S.T, M.Si (seniman tari). (Dayu Swasrina/balipost)

Baca juga:  Aktivitas Meningkat, Gunung Agung Lontarkan Lava Pijar
BAGIKAN