Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan. (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Jumlah penduduk miskin di Provinsi Bali kembali meningkat pada Maret 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat jumlah penduduk miskin mencapai 162,01 ribu orang atau 3,44 persen.

Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar mengatakan, jumlah tersebut meningkat 1,92 ribu orang dibandingkan September 2025. Namun, jika dibandingkan dengan Maret 2025, jumlah penduduk miskin masih turun 11,23 ribu orang atau 0,28 persen poin.

Kenaikan terjadi baik di perkotaan maupun perdesaan. Di perkotaan, jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 mencapai 107,26 ribu orang atau 3,06 persen, naik 1,19 ribu orang dibandingkan September 2025. Meski demikian, persentasenya tidak berubah.

Sementara itu, jumlah penduduk miskin di perdesaan mencapai 54,75 ribu orang atau 4,54 persen. Jumlah tersebut naik 0,73 ribu orang, sedangkan persentasenya meningkat 0,10 persen poin dibandingkan September 2025 yang sebesar 4,44 persen.

Baca juga:  Penguatan Ketahanan Ekonomi Keluarga, Kunci Tekan Kemiskinan

Tekanan kemiskinan di perdesaan juga terlihat dari indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan yang lebih tinggi dibandingkan perkotaan. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) di perdesaan tercatat 0,765, sedangkan perkotaan 0,490.

Untuk Indeks Keparahan Kemiskinan (P2), perdesaan tercatat 0,185 dan perkotaan 0,117. Kondisi ini menunjukkan persoalan kemiskinan di perdesaan relatif lebih dalam dan lebih berat.

Agus menyebutkan sejumlah indikator ekonomi menjadi faktor yang memengaruhi tingkat kemiskinan pada Maret 2026. Perekonomian Bali pada Triwulan I-2026 tumbuh 5,58 persen secara tahunan, melambat dibandingkan pertumbuhan 5,88 persen pada Triwulan III-2025.

Baca juga:  Stok Terbatas, Nelayan Naikkan Harga Ikan

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga melambat menjadi 5,02 persen pada Triwulan I-2026 dari 5,20 persen pada Triwulan III-2025.

Tekanan juga terlihat dari sektor pariwisata. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada Triwulan I-2026 turun 27,22 persen dibandingkan Triwulan III-2025, dari 2,02 juta kunjungan menjadi 1,47 juta kunjungan.

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) juga turun dari 68,17 persen pada September 2025 menjadi 55,44 persen pada Februari 2026.

Dari sisi ketenagakerjaan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Bali pada Februari 2026 tercatat 1,59 persen, naik dari 1,49 persen pada Agustus 2025 dan 1,58 persen pada Februari 2025.

Jumlah penduduk yang bekerja juga turun menjadi 2,62 juta orang pada Februari 2026, dibandingkan 2,70 juta orang pada Agustus 2025 dan 2,69 juta orang pada Februari 2025.

Baca juga:  Ketimpangan Pendapatan di Bali Makin Lebar

Sektor pertanian turut menghadapi tekanan. NTP subsektor tanaman pangan turun 0,05 persen dari 103,39 pada Januari 2026 menjadi 103,34 pada Februari 2026. Produksi padi pada Februari 2026 juga hanya mencapai 18.795 ton, turun hampir 52 persen dibandingkan September 2025 yang mencapai 39.002 ton.

BPS juga mencatat inflasi kumulatif Februari 2026 terhadap September 2025 sebesar 1,62 persen. Khusus kelompok makanan, inflasi kumulatif mencapai 4,18 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski secara tahunan jumlah penduduk miskin Bali masih lebih rendah dibandingkan Maret 2025, tekanan biaya hidup, perlambatan konsumsi, pelemahan aktivitas pariwisata, serta penurunan jumlah penduduk bekerja menjadi tantangan dalam menjaga tren penurunan kemiskinan Bali. (Suardika/balipost)

BAGIKAN