Petugas melakukan pemadaman secara manual. (BP/istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Sulitnya medan menuju lokasi kebakaran menjadi tantangan utama dalam upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan perbukitan Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak. Proses pemadaman harus dilakukan secara manual hingga api akhirnya berhasil dikendalikan. Meski demikian, karhutla ini telah menghanguskan sekitar 48,6 hektare kawasan hutan.

Berdasarkan data BPBD Buleleng, luas area yang terbakar mencapai sekitar 48,6 hektare. Rinciannya, 28,21 hektare berada di kawasan hutan produksi dan 20,39 hektare di kawasan hutan lindung. Beruntung, kebakaran tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun merusak pemukiman warga.

Api pertama kali terlihat pada Jumat (17/7) sore. Namun, karena titik kebakaran berada di kawasan perbukitan dengan akses yang sulit dijangkau kendaraan, mobil pemadam kebakaran tidak dapat mencapai lokasi.

Camat Gerokgak, I Gede Arya Rimbawa Giri yang dikonfirmasi, Minggu (19/7), mengatakan, seluruh proses pemadaman dilakukan secara manual oleh personel gabungan. Sekitar 200 personel gabungan diterjunkan dalam operasi pemadaman. Mereka berasal dari unsur Polhut KPH Bali Utara, TNI, Polri, BPBD Kabupaten Buleleng, BPBD Provinsi Bali, Dinas Pemadam Kebakaran, aparat kecamatan, pemerintah desa, hingga masyarakat setempat.

Baca juga:  Tiga Perempuan Diamankan, Diduga Pelaku Pembunuhan Pria Bertato di Hutan Pancasari

“Api mulai terlihat pada Jumat sore. Karena lokasinya berada di dataran tinggi dan tidak bisa dijangkau mobil pemadam, seluruh personel bergerak melakukan pemadaman secara manual,” ujarnya.

Untuk menghentikan laju kobaran api, petugas menerapkan metode penyekatan. Air dibawa menggunakan botol dan jerigen plastik, sedangkan ranting pohon yang masih berdaun dimanfaatkan untuk memukul api pada titik-titik yang sulit dijangkau. Setelah berjibaku hampir sehari, api akhirnya berhasil dipadamkan pada Sabtu (18/7) sekitar pukul 16.45 WITA.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Buleleng, Gede Suyasa mengatakan, meski kebakaran telah berhasil dikendalikan, pemantauan terus dilakukan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru mengingat vegetasi di kawasan tersebut masih sangat kering akibat musim kemarau. Menurutnya, medan yang terjal dan minimnya sumber air menjadi kendala terbesar selama proses pemadaman berlangsung. Kondisi tersebut memaksa petugas mengandalkan peralatan sederhana.

Baca juga:  Ingin Selamatkan Mobil saat Kebakaran Melanda, Pemiliknya Tersambar Api saat Ambil Kunci

“Mobil tangki tidak bisa naik ke lokasi. Karena itu petugas menggunakan cara manual dengan ranting dan daun untuk memadamkan api. Syukurnya berkat kerja sama semua pihak, api bisa dikendalikan,” kata Suyasa.

Selain melakukan pemadaman, BPBD Provinsi Bali juga mengoperasikan drone untuk memantau kondisi dari udara, melakukan asesmen, sekaligus mendokumentasikan luas area yang terdampak kebakaran. Sementara itu, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan instansi berwenang.

Di tengah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau, BPBD Buleleng juga memperkuat langkah antisipasi menghadapi ancaman kekeringan yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Oktober mendatang.

Baca juga:  WN Rusia Tenggelam di Pantai Saba, Pencarian Hari Kelima Masih Nihil

Suyasa menjelaskan, pihaknya terus melakukan edukasi kepada masyarakat, baik secara formal maupun informal, terkait risiko kebakaran lahan dan kekeringan selama musim kemarau. Selain itu, tim reaksi cepat (TRC) multisektor telah dibentuk serta koordinasi dengan berbagai instansi terus diperkuat untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya krisis air bersih.

Sebagai bentuk kesiapsiagaan, BPBD juga telah menyiapkan armada distribusi air bersih, termasuk meminjam 10 unit mobil tangki dari Pemerintah Provinsi Bali. Selain itu, sejumlah titik sumber air untuk kebutuhan darurat juga telah dipetakan.

“Kami terus menyampaikan informasi perkembangan cuaca kepada masyarakat agar dapat mengantisipasi dampak musim kemarau. Saat ini sudah memasuki musim kemarau dan puncaknya diperkirakan terjadi pada Oktober,” ujar Suyasa. (Yudha/balipost)

 

BAGIKAN