Gelandang tim nasional Amerika Serikat Malik Tillman (kanan) berselebrasi bersama rekan-rekannya seusai mencetak gol tendangan bebas ke gawang Bosnia dan Herzegovina dalam pertandingan 32 besar Piala Dunia 2026 di Stadion Levi's, Santa Clara, California, Amerika Serikat, Rabu (1/7) waktu setempat. (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Laga tim nasional Amerika Serikat (AS) melawan Belgia menjadi kontra penentuan bagi tuan rumah ketiga, tersingkir atau melaju ke babak 8 besar.

Dua tuan rumah lainnya, Kanada dan Meksiko sudah tersingkir setelah bertekuk lutut di tangan lawan-lawannya, Maroko dan Inggris.

Jika merujuk pada pertandingan Brasil lawan Norwegia, tingginya peringkat FIFA bisa jadi tak menunjukkan apa-apa. Norwegia sukses menyisihkan peringkat 6 Brasil di babak 16 besar Piala Dunia 2026 meski peringkatnya berada di luar 30 besar dunia.

Apakah kesuksesan Norwegia itu bisa diulangi oleh Amerika Serikat saat menjamu Belgia di Seattle Stadium Washington, Selasa (7/7) dini hari nanti? Belum tentu.

Dikutip dari Kantor Berita Antara, laga tersebut tidak otomatis menjadi milik AS hanya karena The Yanks bermain di halaman rumahnya sendiri. Terlebih jika melihat perjalanan kedua tim sampai lolos ke 16 besar, di mana The Red Devils menunjukkan kualitas yang lebih baik.

Belgia masuk ke fase gugur kedua itu dengan modal tak terkalahkan dalam empat laga sebelumnya, sedangkan AS sekali kalah dari Turki dalam laga terakhir fase grup.

Turki menjadi lawan berperingkat paling tinggi di antara empat tim yang dihadapi AS sebelumnya. Peringkat Turki adalah 27, di bawah tiga dari empat tim yang dihadapi Belgia sebelum babak 16 besar: Senegal (18), Iran (22), dan Mesir (24).

Youri Tielemans cs tak pernah kalah dari ketiga tim itu, bahkan menyingkirkan Senegal di babak 32 besar, ketika di pertandingan lain, AS dipersulit oleh Bosnia yang berperingkat 61 meski akhirnya menang 2-0.

Baca juga:  Italia Tangguhkan Diskotik dan Berlakukan Penggunaan Masker pada Malam Hari

Pengalaman meladeni lawan-lawan yang lebih kuat ketimbang yang dihadapi AS membuat catatan tim besutan Rudi Garcia itu lebih bagus dibandingkan tim asuhan Mauricio Pochettino.

Meski kalah tipis dalam jumlah gol yang diciptakan (9 vs 10), Belgia adalah tim yang lebih berbahaya dari USMNT karena mencatat lebih banyak umpan yang diolah, daya dobrak antarlini, penciptaan ruang serangan, sentuhan di sepertiga akhir lapangan, dan jumlah umpan silang di depan kotak penalti lawan.

Belgia berada di atas AS pada semua aspek itu, bahkan termasuk xG (probabilitas gol) dengan 8,29, lebih tinggi dari 6,03 yang dimiliki oleh AS.

Namun, tetap saja catatan itu masih bersifat potensi karena secara empirik AS lebih efektif dalam memanfaatkan peluang.

Meski Belgia menjadi tim dengan torehan jumlah peluang terbanyak (92) di Piala Dunia 2026, AS ternyata lebih klinis, terlepas dari fakta bahwa dua dari 10 golnya merupakan gol bunuh diri. AS berhasil mengonversi 19 persen dari total 52 peluang, sedangkan Belgia cuma mencatat 10 persen.

Angka-angka itu bisa menggambarkan bahwa pola bermain pasukan Pochettino lebih berhasil ketimbang Belgia, yang loyal pada formasi 4-2-3-1.

Sejauh ini, Pochettino sudah memainkan tiga pola, tetapi hanya pola 4-1-2-3 yang gagal setelah USMNT ditekuk Turki 2-3.

AS lebih efektif saat Pochettino menempatkan satu ujung tombak dalam sistem bermain 4-2-3-1 setelah Paraguay dan Australia dibuat takluk oleh pola tersebut.

Baca juga:  Kanada Jadi Tuan Rumah Pertama yang Gugur, Maroko Melaju ke 8 Besar Piala Dunia 2026

Tetapi pola bermain itu sekarang menghadapi tantangan besar setelah Folarin Balogun terkena kartu merah pada laga 32 besar melawan Bosnia sehingga tak bisa membela AS di babak 16 besar.

Balogun memang sangat berpengaruh bagi kesuksesan The Yanks. Selain menjadi top skorer AS dengan dua gol, dia juga menjadi pemain AS yang paling aktif menciptakan peluang.

Kehilangan pemain yang menjadi ujung tombak jelas menjadi tamparan keras bagi Pochettino karena akan mengurangi ketajaman lini serang meski AS masih memiliki Sebastian Berhalter, Giovanni Reyna, dan Mark Tillman, yang masing-masing telah mencetak satu gol.

Kondisi itu akan membawa berkah bagi kuartet pertahanan Belgia pimpinan duet bek tengah Brandon Mechele dan Arthur Theate. Sebaliknya, lini pertahanan AS yang dikawal Tim Ream cs bakal menghadapi tugas lebih berat karena agresivitas serangan Belgia.

Namun, intervensi dari pemerintah AS terhadap FIFA dikabarkan telah membuat hukuman untuk Balogun ditangguhkan agar dia bisa bermain melawan Belgia.

 

Selain melepaskan 92 tembakan, 60 di antaranya dilakukan di dalam kotak penalti lawan, Belgia juga memiliki dua pendobrak yang aktif meneror lini pertahanan lawan, yakni Youri Tielemans dan Leandro Trossard.

Tielemans adalah pemain Belgia yang paling aktif bergerak dari lini ke lini dengan 93 kali pergerakan, melebihi frekuensi Tim Ream di AS (86). Sedangkan Trossard menjadi pemain Belgia teraktif melakukan pressing (119), melampaui Sergino Dest di tim AS (80).

Baca juga:  AS Mulai Vaksinasi COVID-19, Jerman Kembali Lakukan "Lockdown" Sebagian

Tielemans dan Trossard juga sudah mencetak masing-masing dua gol, sama dengan Romelu Lukaku. Ketiga pemain itu telah menyumbang 60 persen dari total gol Belgia.

Dua gol lainnya dibuat Alexis Saelemaekers dan Kevin de Bruyne, pencipta peluang terbanyak (18) Belgia.

Trio Tielemans, Trossard, dan de Bruyne jelas akan membuat gentar barisan pertahanan AS, apalagi jika mereka bermain lebih ke dalam.

Pasukan The Yanks sudah tujuh kali bertemu dengan Setan Merah, termasuk pertemuan 96 tahun lalu pada Piala Dunia 1930 ketika Belgia menyerah 0-3.

Namun, dalam enam pertemuan berikutnya, yang terjadi dalam tiga dekade terakhir, Belgia selalu mengalahkan AS, termasuk di babak 16 besar Piala Dunia 2014.

Kegagalan pada 2014 itu hanyalah satu dari lima kegagalan AS melewati babak 16 besar meski finis di urutan ketiga pada Piala Dunia 1930.

Belgia sendiri sudah tiga kali melewati babak 16 besar, bahkan melaju ke semifinal pada 1986 dan 2018. Namun, empat tahun lalu di Qatar, mereka terhenti di fase grup, sementara AS melenggang sampai 16 besar.

Meski demikian, jika berkaca pada tumbangnya Meksiko di tangan Inggris yang memupus anggapan bahwa tuan rumah lebih diuntungkan, serta statistik yang sejauh ini berpihak pada Belgia, maka AS akan lebih sulit mencapai perempat final, yang terakhir kali mereka capai pada Piala Dunia 2014. (Suka Adnyana/balipost)

BAGIKAN