
MANGUPURA, BALIPOST.com – Suasana penuh haru mewarnai peluncuran novel “Unfinished Love” karya Klissy Myring yang digelar di Kerobokan, Badung, Sabtu (4/7). Berbeda dari karya fiksi pada umumnya, novel ini lahir dari kisah nyata kehidupan sang penulis yang dituangkan dengan gaya bertutur layaknya sebuah perjalanan emosional yang dekat dengan kehidupan banyak orang.
Melalui Unfinished Love, Klissy Myring mengajak pembaca menyelami cerita tentang cinta, kehilangan, penyesalan, hingga proses berdamai dengan masa lalu. Novel ini menghadirkan potongan-potongan kehidupan yang tidak selalu berakhir bahagia, namun sarat makna tentang bagaimana seseorang mampu bangkit dari setiap pengalaman.
“Ini bukan sekadar kisah cinta yang belum selesai. Ini adalah perjalanan hidup yang mengajarkan bahwa setiap luka, kegagalan, dan penyesalan memiliki makna jika kita mau belajar darinya,” ungkap Klissy.
Dalam novel tersebut, Klissy menuliskan kisah hidupnya secara jujur tanpa berusaha menyembunyikan sisi rapuh sebagai manusia. Ia menggambarkan bahwa cinta tidak selalu datang dalam bentuk yang indah.
Ada harapan yang pupus, keputusan yang keliru, perasaan yang terlambat disadari, hingga luka yang membutuhkan waktu panjang untuk dipahami. Namun di balik semua itu, penulis ingin menyampaikan pesan bahwa setiap pengalaman, seberat apa pun, dapat menjadi jalan menuju kedewasaan dan penerimaan diri.
“Hidup bukan tentang menghindari kesalahan, tetapi bagaimana kita memaknai setiap pengalaman yang datang. Dari sanalah kita belajar menjadi pribadi yang lebih kuat,” tuturnya.
Pesan itulah yang menjadi benang merah dalam Unfinished Love. Novel ini mengajak pembaca melihat bahwa ketidaksempurnaan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari proses bertumbuh.
“Ketidaksempurnaan bukan sesuatu yang harus disesali. Justru di sanalah manusia menemukan ruang untuk belajar, bertumbuh, dan berubah menjadi pribadi yang lebih utuh,” kata Klissy.
Dengan bahasa yang ringan namun penuh emosi, Unfinished Love diharapkan tidak hanya menjadi bacaan yang menghibur, tetapi juga mampu menjadi teman bagi siapa saja yang tengah berjuang menerima masa lalu, memaafkan diri sendiri, dan melangkah menuju lembaran kehidupan yang baru. Novel ini menjadi bukti bahwa setiap kisah hidup, seberat apa pun, selalu memiliki nilai untuk dibagikan dan menginspirasi orang lain. (Suka Adnyana/balipost)




