Pengecekan SPPG oleh Wakil Bupati Buleleng beberapa waktu lalu. (BP/istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Kebijakan moratorium pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diberlakukan pemerintah pusat membuat pengembangan unit layanan baru di Kabupaten Buleleng untuk sementara tertunda. Di tengah kondisi tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) Buleleng mengalihkan fokus pada pengawasan dan optimalisasi SPPG yang telah beroperasi guna memastikan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan maksimal.

Koordinator Wilayah BGN Buleleng, Rusdianto, Selasa (23/6), mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu petunjuk lebih lanjut dari pemerintah pusat terkait kelanjutan pembangunan SPPG baru di daerah. Berdasarkan data terbaru, di Kabupaten Buleleng terdapat 46 SPPG yang telah terverifikasi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 38 unit telah beroperasi, sedangkan delapan lainnya masih belum aktif.

Baca juga:  1.780 SPPG Dihentikan Sementara

Menurut Rusdianto, belum beroperasinya sejumlah SPPG tersebut tidak semata-mata karena kendala teknis, tetapi juga dipengaruhi masa libur sekolah. Selama libur sekolah, distribusi makanan bergizi kepada peserta didik dihentikan sementara sehingga aktivitas operasional di beberapa SPPG ikut menyesuaikan.

“Kami masih menunggu petunjuk lebih lanjut terkait pembangunan SPPG baru. Saat ini fokus kami adalah monitoring SPPG yang sudah berjalan dan yang masih dalam proses di portal mitra,” ujarnya.

Meski demikian, aktivitas internal di masing-masing SPPG tetap berjalan. Pengelola masih melaksanakan pekerjaan administrasi, pemantauan, serta pengawasan teknis sebagai persiapan saat layanan kembali berjalan normal. “Yang belum beroperasi ini sebagian juga karena bertepatan dengan masa libur sekolah sehingga distribusi memang dihentikan sementara,” jelasnya.

Baca juga:  MBG di Jembrana Belum Sepenuhnya Jangkau Peserta Didik

Di sisi lain, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di Buleleng terus menunjukkan perkembangan. Hingga Juni 2026, jumlah penerima manfaat telah mencapai sekitar 87 ribu orang. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah seiring optimalisasi layanan pada seluruh SPPG yang telah beroperasi.

Rusdianto optimistis cakupan penerima manfaat di Buleleng dapat menembus lebih dari 100 ribu orang. Saat ini realisasi program telah melampaui 50 persen dari target yang ditetapkan. “Proyeksinya bisa lebih dari 100 ribu penerima manfaat di Buleleng, dan saat ini sudah di atas 50 persen capaian,” katanya.

Baca juga:  PKL Depan RSUD Negara Ditertibkan

Sementara itu, penyaluran makanan bergizi kepada kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, tetap dilakukan melalui SPPG yang telah beroperasi. Namun pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi wilayah serta kapasitas masing-masing unit layanan.

Ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan di lapangan, terutama untuk wilayah dengan akses distribusi yang cukup jauh dan sulit dijangkau. Kondisi tersebut menjadi perhatian BGN dalam upaya meningkatkan efektivitas pelayanan ke depan. “Memang ada beberapa wilayah yang jangkauannya cukup sulit, ini menjadi tantangan tersendiri dalam distribusi,” pungkasnya. (Yudha/balipost)

BAGIKAN