Gladi bersih Paguyuban DGL di Puri Gandapura, Denpasar, Minggu (21/6), sebagai persiapan pementasan lakon “Aji Grenggeng Maya” pada PKB XLVIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Paguyuban Drama Gong Lawas (DGL) memantapkan persiapan menjelang pementasan dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 dengan menggelar gladi bersih dan menyerap masukan dari kurator PKB, di Puri Gandapura, Denpasar, Minggu (21/6) sore. Pementasan yang dijadwalkan berlangsung pada 2 Juli 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali itu akan membawakan lakon berjudul “Aji Grenggeng Maya”.

Gladi bersih dilakukan untuk memastikan kesiapan seluruh unsur pementasan, mulai dari pemain, penabuh hingga penari. Selain mengukur durasi pertunjukan, kegiatan ini juga menjadi ajang penyatuan ritme antarpendukung pementasan agar penampilan DGL di PKB 2026 dapat berlangsung maksimal dan tetap menjadi rujukan pakem pertunjukan drama gong di Bali.

Gladi bersih turut dihadiri Kurator PKB 2026, Prof. I Wayan Dibia. Dalam evaluasinya, ia mengaku gembira melihat lakon yang diangkat karena memiliki pesan yang kuat dan relevan.

“Saya sangat bergembira dengan lakon ini. Lakon ini cukup serius dan pesannya sangat penting,” ujarnya usai gladi bersih.

Meski demikian, Prof. Dibia memberikan sejumlah catatan teknis yang perlu disempurnakan sebelum pentas. Salah satu yang disoroti adalah penataan blocking pemain di atas panggung. Menurutnya, posisi antartokoh masih terlihat terlalu berdekatan sehingga belum sepenuhnya mencerminkan strata dan status masing-masing karakter.

Ia menegaskan jarak antara raja, permaisuri, patih maupun tokoh lain perlu diatur lebih jelas agar penonton dapat langsung menangkap hirarki sosial yang dibangun dalam cerita.

Selain aspek panggung, Prof. Dibia juga menyoroti penggunaan bahasa Bali dalam dialog. Ia mengingatkan DGL agar tetap konsisten menggunakan kosakata dan ungkapan yang sesuai pakem bahasa Bali.

Baca juga:  Gladi Bersih Peed Aya PKB 2026 Digelar, Ribuan Seniman Siap Tampilkan Kekayaan Budaya Bali

“Drama gong ini memiliki fungsi penting sebagai pengemban bahasa Bali. Karena itu penggunaan bahasa harus terus dikembalikan dan dipelihara. Kalau ini berhasil, inilah sumbangan besar Drama Gong Lawas bagi pelestarian bahasa Bali,” katanya.

Menurutnya, sejumlah istilah dan penyebutan yang muncul dalam dialog masih perlu disesuaikan dengan kaidah bahasa Bali yang lazim digunakan dalam pertunjukan drama gong klasik.

Kurator PKB itu juga mengingatkan para pelawak agar tidak terlalu banyak membawa situasi atau kondisi penonton ke dalam alur cerita. Komunikasi dengan penonton tetap diperbolehkan, namun harus tetap berada dalam koridor lakon yang dimainkan.

“Jangan membawa persoalan penonton ke dalam pertunjukan. Kita yang membawa pertunjukan ke alam mereka, bukan sebaliknya,” tegasnya.

Catatan lain yang diberikan menyangkut logika adegan, sinkronisasi gerak dengan musik gamelan, tata adegan prosesi pernikahan, hingga ekspresi tokoh-tokoh utama. Prof. Dibia menilai setiap adegan perlu dibangun secara lebih kuat agar karakter tokoh dapat terbaca sejak awal oleh penonton.

Salah satu contoh yang disorot adalah penggambaran karakter Patih Agung. Menurutnya, sejak awal tokoh tersebut perlu menampilkan gelagat yang mencerminkan sifat antagonis sehingga konflik cerita dapat berkembang secara lebih meyakinkan.

Ia juga mengingatkan agar interaksi antar tokoh disesuaikan dengan status dan hubungan dalam cerita. Gestur maupun jarak antarpemain dinilai sangat penting karena dapat memengaruhi persepsi penonton terhadap alur dan karakter yang ditampilkan.

Ketua Paguyuban DGL, Anak Agung Gede Oka Aryana, SH., M.Kn., didampingi Wakil Ketua Dewa Putu Kandel, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa persiapan dilakukan secara bertahap. Para pemain drama gong lebih dahulu melakukan pembahasan dan pendalaman naskah, sementara penabuh menjalani latihan tersendiri sebelum seluruh unsur dipadukan dalam latihan bersama.

Baca juga:  Wabup Kasta Evaluasi Penyelenggaraan Desa di Banjarangkan

“Kami melakukan latihan bertahap, mulai dari pembahasan naskah hingga pemantapan bersama penabuh dan pemain. Gladi bersih ini juga menjadi kesempatan bagi kurator untuk memberikan masukan agar pementasan nanti bisa lebih baik saat tampil di Ardha Candra pada 2 Juli,” ujarnya.

Menurutnya, pementasan tahun ini melibatkan sekitar 22 pemain drama dan didukung sekitar 28 penabuh. DGL juga menyambut antusiasme masyarakat yang kembali menginginkan kehadiran drama gong lawas di panggung PKB.

“Banyak masyarakat yang merindukan drama gong lawas kembali tampil. Ini menjadi semangat bagi kami untuk terus menjaga keberadaan seni pertunjukan ini,” katanya.

Ia menambahkan, tingginya minat generasi muda untuk terlibat dalam drama gong menjadi sinyal positif bagi keberlangsungan seni tradisional Bali tersebut. Kehadiran kelompok-kelompok drama gong di berbagai daerah dinilai turut memperkuat upaya pelestarian kesenian yang sempat mengalami pasang surut.

Sementara itu, Tim Pembina Drama Gong Kota Denpasar, I Made Gede Kariyasa, yang turut hadir menyaksikan gladi bersih, mengapresiasi semangat generasi muda yang mulai menekuni seni drama gong.

Menurutnya, drama gong tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media pelestarian bahasa Bali, etika, dan nilai-nilai budaya yang diwariskan kepada generasi muda.

“Harapan kami semakin banyak anak muda yang tertarik belajar dan menekuni drama gong. Melalui pementasan seperti ini, bahasa Bali, nilai-nilai budaya, dan pesan moral yang terkandung dalam drama gong dapat terus hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.

Baca juga:  Banjar Kertasari Desa Adat Peguyangan "Melaspas" Bale Kulkul

Pada PKB 2026, DGL akan membawakan kisah “Aji Grenggeng Maya”, sebuah cerita yang sarat konflik kekuasaan, fitnah, dendam, dan ilmu kesaktian dengan latar Kerajaan Bhuwana Raja.

Cerita berawal dari nasib tragis Diah Ratnasari, permaisuri pertama kerajaan yang terusir akibat fitnah. Dalam pengembaraannya bersama sang bayi menuju Hutan Waringin Sungsang, ia mendapat pertolongan penguasa kuburan yang kemudian menganugerahinya ilmu sakti Aji Grenggeng Maya.

Di sisi lain, Diah Bedawati, permaisuri kedua kerajaan, juga menguasai ilmu yang sama setelah memohon kekuatan kepada Sanghyang Kalika Maya demi mengendalikan sang raja dan menguasai Kerajaan Bhuwana Raja.

Konflik memuncak ketika Diah Ratnasari yang hidup sebagai rakyat biasa dengan nama Men Wangi berusaha membalas penderitaan yang dialaminya. Ambisi balas dendam mempertemukan dua perempuan sakti yang sama-sama menguasai Aji Grenggeng Maya dalam pertarungan yang dilandasi perebutan kekuasaan dan luka masa lalu.

Naskah pementasan disusun oleh Ida Bagus Gede Mambal, disutradarai Jero Mangku Suyadnya, serta dikembangkan dari ide cerita A.A. Kartika, dan penata tabuh oleh Ida Bagus Kartika.

Kembalinya Drama Gong Lawas ke panggung PKB diharapkan mampu mengobati kerinduan para penggemarnya sekaligus menjadi momentum pelestarian seni drama gong Bali yang selama puluhan tahun menjadi salah satu ikon seni pertunjukan tradisional Pulau Dewata. Melalui lakon “Aji Grenggeng Maya”, DGL bertekad menghadirkan tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat pesan moral mengenai fitnah, keserakahan, perebutan kekuasaan, dan konsekuensi dari dendam yang dipelihara. (Adv/balipost)

BAGIKAN