
DENPASAR, BALIPOST.com – Film dokumenter Ki AI Nir Nur resmi diperkenalkan kepada publik melalui penayangan perdananya, Minggu (31/5). Di balik film yang mengangkat tema Ogoh-ogoh Banjar Gemeh, Denpasar pada Nyepi 2025 lalu tersebut, tersimpan pesan reflektif mengenai hubungan manusia dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat terutama pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Undagi Ogoh-Ogoh Ki AI Nir Nur sekaligus penggagas film dokumenter ini, Marmar Herayukti, saat ditemui usai penayangan perdana mengatakan, film tersebut pada awalnya tidak dirancang sebagai karya dokumenter untuk konsumsi publik. Bersama ST Gemeh Indah dan Mahatma Pictures, ia hanya ingin membuat dokumentasi yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Awalnya kami ingin membuat dokumentasi yang proper. Setelah melihat materi yang terkumpul, ternyata cukup kuat untuk menjadi sebuah film dokumenter. Dari pengambilan gambar hingga materi yang ada di dalamnya, semuanya sangat mendukung,” ujarnya.
Menurut Marmar, proses dokumentasi yang dimulai sejak pelaksanaan ogoh-ogoh tahun lalu justru menghadirkan berbagai perkembangan yang membuat pesan dalam film semakin relevan. Filosofi yang diangkat melalui sosok Ki AI Nir Nur terus menemukan keterkaitannya dengan berbagai fenomena yang terjadi setelah perayaan Nyepi berlalu.
Ia menjelaskan, Ki AI Nir Nur merupakan simbol yang menggambarkan hubungan antara kecerdasan dan kesadaran. Dalam pandangannya, perkembangan kecerdasan buatan atau AI tidak boleh dilepaskan dari unsur kesadaran sebagai nilai dasar kemanusiaan.
“Kecerdasan yang dibarengi kesadaran itu saya ibaratkan seperti cahaya matahari. Matahari memungkinkan kehidupan tumbuh dan berkembang. Tetapi bayangkan jika matahari tanpa cahaya, dunia akan gelap, dingin, dan perlahan mati. Yang hilang di situ adalah kesadaran,” jelasnya.
Nama Ki AI Nir Nur sendiri dipilih karena memiliki makna simbolis. Selain merujuk pada singkatan AI (kecerdasan buatan), kata “AI” dalam bahasa Bali juga dapat dimaknai sebagai matahari. Sementara “Nir Nur” berarti tanpa cahaya. “Bayangkan jika matahari tanpa cahaya. Itulah gambaran ketika kecerdasan berjalan tanpa kesadaran,” katanya.
Melalui film tersebut, Marmar ingin mengajak masyarakat untuk lebih bijak menyikapi perkembangan teknologi. Menurutnya, teknologi memiliki dua kemungkinan yang sama besar, yakni menjadi alat yang memajukan peradaban atau justru meruntuhkannya.
“Kita sedang berada di ambang dua kemungkinan itu. Apakah teknologi akan kita kendalikan sebagai alat bantu, atau justru kita yang dikendalikan oleh teknologi. Semua kemudahan akan selalu dekat dengan kita, tetapi keputusan dan kehati-hatian manusialah yang menentukan arah ke depan,” ujarnya.
Film dokumenter ini merekam peristiwa yang terjadi secara nyata selama proses penciptaan dan perjalanan Ogoh-ogoh Ki AI Nir Nur. Karena berbentuk dokumenter, seluruh pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut menjadi bagian dari cerita yang ditampilkan.
Marmar menyebut proses produksi film berlangsung sejak Januari 2025 dan baru rampung sekitar dua bulan lalu atau Maret 2026. Seiring proses penyuntingan, ia melihat materi yang dimiliki tidak hanya menarik dari sisi visual, tetapi juga memiliki relevansi kuat untuk dibicarakan saat ini.
Ia menilai ogoh-ogoh merupakan fenomena budaya yang memiliki kekuatan besar sebagai medium baru dalam menyampaikan berbagai pesan sosial dan kemanusiaan. Karena itu, eksplorasi terhadap makna yang terkandung di dalamnya perlu terus dilakukan.
Melalui Ki AI Nir Nur, Marmar berharap lahir kesadaran yang lebih kuat dalam diri manusia di tengah derasnya perkembangan teknologi. Selain itu, ia juga berharap semakin banyak yang tertarik mengangkat dokumenter berbasis budaya dengan menggali nilai-nilai yang lebih mendalam. *wid









