Malu Dong dalam momentum ulang tahun ke-17 menggaungkan pesan darurat lingkungan melalui gerakan #SAYAJABISA di Pantai Kelan, Kecamatan Kuta, Badung, Sabtu (23/5). (BP/Istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Bali kini menghadapi darurat sampah. Tumpukan sampah di kawasan pesisir, pencemaran lingkungan, hingga meningkatnya volume residu dinilai menjadi ancaman serius yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Ketua Malu Dong Community, I Made Agus Jaya Wardana dalam keterangannya berharap dalam 1,5 tahun ke depan ada solusi nyata dalam penanganan sampah.

Malu Dong sendiri dalam momentum ulang tahun ke-17 menggaungkan pesan darurat lingkungan melalui gerakan #SAYAJABISA di Pantai Kelan, Kecamatan Kuta, Badung, Sabtu (23/5). Kegiatan bertema SOS itu tidak hanya diisi aksi bersih pantai, tetapi juga forum diskusi mencari solusi konkret persoalan sampah di Bali.

Baca juga:  BWS akan Panggil Pengembang Perumahan yang Tutup Irigasi di DAS Tukad Saba

“Ini menunjukkan konsistensi berbagai elemen masyarakat untuk terus bergerak mencari solusi atas persoalan sampah. Kami ingin membangun kepedulian agar masyarakat memahami betapa sulitnya membersihkan sampah dan terbiasa membuang sampah pada tempatnya,” ujarnya.

Menurut Agus, tema SOS dipilih sebagai simbol kondisi darurat sampah yang kini dihadapi Bali. Melalui talkshow dan forum kolaboratif yang digelar, pihaknya berharap muncul langkah nyata penanganan sampah, khususnya di wilayah Denpasar dan Badung.

Baca juga:  Posisi Digantikan NTB, Ini Peringkat Bali dalam Jumlah Kasus COVID-19 se-Indonesia

“Kami berharap dalam satu setengah tahun ke depan ada solusi nyata yang bisa diterapkan bersama,” katanya.

Seluruh sampah yang dikumpulkan dalam aksi tersebut dipastikan akan diproses di tempat pengolahan sampah residu agar tidak kembali mencemari lingkungan.

Bendesa Adat Kelan, I Wayan Sukerena, mengapresiasi keterlibatan komunitas dan relawan dalam membantu membersihkan Pantai Kelan yang memiliki garis pantai sekitar 800 meter.

“Kami sangat berterima kasih atas dukungan ini. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut di tahun-tahun mendatang,” ungkapnya.

Baca juga:  Desa Pesinggahan Gelar Paruman, Tolak Penginapan Dekat Pura Goa Lawah

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Badung, Made Rai Warastuthi, menilai gerakan yang digagas generasi muda menjadi energi positif dalam menjaga keberlanjutan lingkungan Bali.

“Malu Dong adalah pengingat bahwa kita seharusnya malu jika tidak menjaga kebersihan bumi dan lingkungan. Menjaga kebersihan pantai berarti menjaga ikon utama pariwisata Bali,” katanya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN