Pelaksanaan Tumpek Wariga sebagai pemuliaan kepada alam dan lingkungan diperingati Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar dengan menggelar persembahyangan di Pura Agung Lokanatha, Lumintang, Denpasar, Sabtu (23/5). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pelaksanaan Tumpek Wariga sebagai pemuliaan kepada alam dan lingkungan diperingati Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar dengan menggelar persembahyangan di Pura Agung Lokanatha, Lumintang, Denpasar, Sabtu (23/5).

Kepala Bagian (Kabag) Kesra Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Surya Antara mengatakan, pelaksanaan Tumpek Wariga ini juga merujuk pada Instruksi Gubernur Bali terkait perayaan setiap Hari Suci Tumpek. “Upacara ini kami laksanakan sebagai wujud syukur dan penghormatan kepada Sang Hyang Sangkara atas segala ciptaannya berupa tumbuh-tumbuhan yang menghidupi bumi,” ujarnya.

Baca juga:  Berlanjut, Pembangunan Balai Budaya di Lumintang

Menurutnya, esensi dari filosofi Tumpek Wariga adalah penerapan nyata dari ajaran Tri Hita Karana. Yakni hubungan haromis manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Tumpek Wariga juga memiliki keterkaitan erat dengan Hari Raya Galungan yang akan jatuh 25 hari setelah tumpek ini. “Melalui ritual ini, masyarakat memohon agar alam, khususnya tumbuh-tumbuhan, dapat memberikan hasil terbaik berupa buah, bunga, dan dedaunan yang nantinya akan digunakan sebagai sarana upakara Galungan,” katanya.

Baca juga:  Implementasi Tumpek Wariga

Konsep ini, menurutnya, tidak lepas dari keselarasan antara Bhuana Alit (diri manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta) demi menjaga keseimbangan bumi beserta isinya.

Disinggung mengenai adanya agenda penanaman pohon atau penghijauan serentak pada perayaan kali ini, ia menjelaskan, untuk momen sekarang fokus kegiatan diarahkan pada ritual dan perawatan vegetasi yang sudah ada. Untuk penanam pohon sendiri telah dilakukan enam bulan lalu dalam skala besar serta pada momen-momen tertentu..

Baca juga:  Pembunuh SPG juga Dibidik Kasus Perampokan

Meskipun demikian, ia mengingatkan masyarakat untuk tetap selektif dalam merawat dan menanam pohon di lingkungan sekitar. Tumbuhan yang dipilih pun harus beragam, mulai dari tanaman yang menghasilkan buah, berbunga, jenis umbi-umbian, hingga tanaman keras atau berbatang.

“Untuk saat ini tidak ada penanaman baru karena sudah kami laksanakan pada enam bulan lalu. Yang terpenting adalah bagaimana kita terus merawat tanaman-tanaman tersebut secara berkelanjutan,” katanya. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN