
DENPASAR, BALIPOST.com – Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali, Ida Bagus Gde Wesnawa Punia mengungkap sejumlah persoalan pendidikan di Bali menjelang Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027.
Ia menyebut terdapat tiga persoalan utama yang menjadi perhatian Disdikpora Bali, yakni rendahnya nilai rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA/SMK, penurunan angka kelahiran atau populasi penduduk, dan belum tercapainya target indikator kinerja urusan pendidikan.
Dijelaskan, berdasarkan data TKA tahun 2025, capaian Bali masih berada di bawah daerah dengan nilai tertinggi pada sejumlah mata pelajaran. Untuk Bahasa Indonesia, rata-rata nilai Bali tercatat 58,41, sementara daerah tertinggi mencapai 63,18.
Pada mata pelajaran Matematika, Bali memperoleh rata-rata 37,52 dibanding nilai tertinggi 41,14. Sedangkan Bahasa Inggris, Bali mencatat rata-rata 28,86 dengan nilai tertinggi 37,64.
“Nilai TKA ini masih menjadi tantangan kami ke depan, bagaimana kita bisa meningkatkannya,” ujarnya, Rabu (20/5).
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan serius dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Bali, khususnya pada jenjang SMA dan SMK. Disdikpora Bali pun terus mendorong penguatan mutu pembelajaran dan peningkatan kompetensi akademik siswa.
Selain isu kualitas pendidikan, Disdikpora Bali juga menyoroti dampak penurunan angka kelahiran terhadap proyeksi peserta didik baru tahun ajaran 2026/2027. Berdasarkan data yang dipaparkan, total lulusan SMP/MTs di Bali diproyeksikan mencapai 64.021 siswa.
Sementara itu, total daya tampung SMA dan SMK di Bali mencapai 94.599 siswa, terdiri dari 55.188 kursi di sekolah negeri dan 38.253 di sekolah swasta. Untuk jenjang SMA, daya tampung sekolah negeri tercatat 30.348 siswa dan swasta 10.838 siswa dengan total 42.236 kursi. Sedangkan SMK memiliki daya tampung lebih besar, yakni 24.840 siswa di sekolah negeri dan 27.415 siswa di sekolah swasta dengan total 52.363 kursi.
Dari data tersebut, total daya tampung SMA dan SMK di Bali tercatat surplus 29.420 kursi dibanding jumlah lulusan SMP/MTs. Namun demikian, daya tampung sekolah negeri masih mengalami kekurangan 8.833 kursi, sedangkan sekolah swasta kekurangan 25.768 kursi jika dibandingkan minat masyarakat yang cenderung memilih sekolah negeri.
Wesnawa mengungkapkan skema kuota SPMB 2026/2027. Untuk SMA kategori A, jalur domisili dialokasikan sebesar 25 persen, afirmasi 20 persen, prestasi 50 persen, dan mutasi 5 persen. Sedangkan SMA kategori B menerapkan kuota domisili 35 persen, afirmasi 20 persen, prestasi 40 persen, dan mutasi 5 persen.
Sementara pada jenjang SMK, jalur domisili mendapat kuota 8 persen, afirmasi 15 persen, prestasi 75 persen, dan mutasi 2 persen. Jalur prestasi menjadi kuota terbesar karena mempertimbangkan kompetensi akademik maupun nonakademik calon siswa.
Tahapan pelaksanaan SPMB 2026 sendiri dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama meliputi jalur afirmasi, mutasi, dan prestasi yang dijadwalkan berlangsung pada 22–29 Juni 2026. Sementara tahap kedua untuk jalur domisili berlangsung pada 30 Juni hingga 9 Juli 2026.
Disdikpora Bali juga menegaskan calon murid baru jenjang SMA dan SMK diperbolehkan mendaftar melalui lebih dari satu jalur penerimaan sepanjang memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. (Ketut Winata/balipost)








