Dua wisatawan asing sedang berjalan-jalan di Sanur, Denpasar. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Hasil asesmen Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menunjukkan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama triwulan I tahun 2026 tetap dalam kondisi terjaga, di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global, seiring eskalasi konflik di Timur Tengah. Memasuki April 2026, dinamika penyelesaian konflik Timur Tengah masih menjadi faktor utama volatilitas pasar keuangan global, terutama terhadap lonjakan harga energi.

Dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah secara tidak langsung berpengaruh terhadap sektor pariwisata Bali. Ketergantungan penerbangan internasional pada hub di kawasan tersebut membuat akses wisatawan ikut terganggu.

Kondisi ini mendorong pelaku industri dan akademisi di Bali memperkuat strategi diversifikasi pasar wisatawan sekaligus mempercepat penguatan sektor ekonomi di luar pariwisata.

Pemerhati pariwisata Bali, Trisno Nugroho di Denpasar mengatakan pelaku industri pariwisata mulai melirik pasar baru seperti Asia Tengah untuk mengurangi ketergantungan pada pasar dan jalur penerbangan tradisional.

Baca juga:  Ribuan Pelaku Pariwisata Bali Tak Lolos Verifikasi Dana Hibah

Menurutnya, diversifikasi pasar menjadi langkah penting agar industri pariwisata Bali lebih tahan menghadapi ketidakpastian global. Selain itu, upaya tersebut juga diarahkan untuk menciptakan pariwisata yang lebih berkelanjutan.

“Diversifikasi pasar wisatawan menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis pariwisata, menjaga lingkungan, sekaligus meningkatkan kontribusi ekonomi yang lebih berkelanjutan,” ujarnya, Senin (11/5).

Ia menilai Bali juga perlu diversifikasi memperkuat sektor ekonomi lain agar tidak hanya bertumpu pada pariwisata. Salah satunya melalui penguatan sektor pertanian sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru di daerah.

“Ke depan sektor pertanian harus menjadi sektor yang kokoh agar Bali tidak hanya bergantung pada sektor pariwisata,” katanya.

Praktisi ekonomi FEB Unud, Putu Krisna Adwitya Sanjaya menegaskan pariwisata dan pertanian harus dibangun secara terintegrasi karena keduanya saling mendukung.

Ia mencontohkan sektor kuliner yang menjadi salah satu daya tarik utama wisatawan justru membutuhkan pasokan bahan baku dari petani dan peternak lokal.

Baca juga:  Atasi Kemacetan Pelabuhan Sanur, Pj Gubernur Ajukan 3 Skema

“Salah satu yang dicari wisatawan adalah kulinernya. Di sini pertanian dan pariwisata bisa saling melengkapi, dimana pasokan input kuliner bisa dipenuhi petani dan peternak lokal,” ujarnya.

Selain sektor pangan, keterlibatan UMKM dan perajin lokal juga dinilai penting dalam memperkuat dampak ekonomi pariwisata. Produk oleh-oleh dan cenderamata khas Bali dinilai dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi masyarakat apabila dibangun dengan standardisasi yang baik.

Di sisi lain, Bali juga mulai mengembangkan model wisata baru yang lebih berkelanjutan dan tidak hanya bertumpu pada wisata massal. Di antaranya melalui pengembangan wellness tourism atau wisata kesehatan, agrowisata berbasis pertanian dan pedesaan, hingga wisata minat khusus yang menonjolkan pengalaman budaya, spiritual, dan alam.

Sementara itu, Guru Besar FEB Undiknas Denpasar, IB Raka Suardana menilai diversifikasi pasar dan ekonomi menjadi kunci menjaga stabilitas pertumbuhan Bali di tengah tekanan global.

Baca juga:  Menkeu Siapkan Lima Kebijakan Dukung Pemulihan Ekonomi

“Di tengah tekanan eksternal seperti konflik geopolitik, diversifikasi pasar menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan tetap stabil. Bagi Bali, ini bukan sekadar mencari pasar baru, tetapi cara menjaga daya tahan industri di tengah ketidakpastian global,” katanya.

Menurutnya, tantangan terbesar ekonomi Bali pada Triwulan II-2026 adalah menjaga pertumbuhan tetap stabil di tengah low season pariwisata, perlambatan belanja pemerintah, dan lemahnya konsumsi masyarakat.

Ia menilai tingginya ketergantungan Bali terhadap sektor pariwisata membuat ekonomi daerah sangat rentan ketika kunjungan wisatawan menurun. Karena itu, penguatan sektor pertanian modern, ekonomi kreatif, industri digital, UMKM berbasis ekspor, hingga hilirisasi produk lokal menjadi kebutuhan mendesak untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Bali. (Suardika/balipost)

BAGIKAN