Ketua BTB/GIPI Bali, IB Agung Partha Adnyana. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dinamika geopolitik global kembali menjadi perhatian pelaku industri pariwisata. Meski Bali berada jauh dari wilayah konflik internasional, dampaknya tetap terasa melalui perubahan persepsi wisatawan, travel advisory, serta gangguan konektivitas penerbangan internasional.

Ketua Bali Tourism Board (BTB), I.B. Agung Partha Adnyana di Denpasar, menilai konflik global tidak serta-merta memukul kondisi destinasi, namun lebih berpengaruh pada psikologi pasar.

“Konflik global memang bisa memengaruhi kunjungan wisatawan ke Bali. Bukan karena kondisi di Bali tidak aman, tetapi karena persepsi risiko dan kebijakan perjalanan dari negara asal wisatawan,” ujarnya Minggu (1/3).

Bali dinilai cukup resilien menghadapi tekanan global. Diversifikasi pasar wisatawan dan penguatan promosi ke berbagai kawasan menjadi salah satu faktor penopang ketahanan pariwisata Pulau Dewata.

Baca juga:  Pelaku Pariwisata Minta Pemerintah Dukung Pembangunan Infrastruktur

Dalam jangka panjang, pola perjalanan global memang dapat berubah mengikuti dinamika geopolitik dan ekonomi dunia. Namun Bali tetap memiliki keunggulan sebagai destinasi budaya dan leisure kelas dunia selama mampu menjaga keamanan, kualitas layanan, serta kepastian pengalaman wisata.

“Bali tetap aman dan terbuka bagi wisatawan dunia. Tantangan global lebih berdampak pada persepsi dan konektivitas, bukan pada kondisi destinasi itu sendiri,” tegas Partha.

Menurutnya, pasar Eropa, Australia, Jepang, Korea Selatan, hingga Amerika Utara termasuk yang paling responsif terhadap isu geopolitik. Negara-negara tersebut memiliki tingkat kepatuhan tinggi terhadap travel advisory serta pertimbangan manajemen risiko perjalanan yang ketat.

Baca juga:  Ukur Efektivitas Bangkitkan Minat Generasi Muda, Akademisi Dorong Evaluasi Bulan Bahasa Bali

Ketika konflik meningkat, biasanya terjadi penundaan atau perubahan jadwal perjalanan dalam jangka pendek, khususnya untuk keberangkatan yang sudah dekat. Namun pembatalan permanen relatif terbatas karena sebagian besar wisatawan memilih melakukan penjadwalan ulang (reschedule).

Ia juga mengungkapkan bahwa karakter wisatawan saat ini berbeda dibanding sebelum pandemi. Wisatawan kini lebih cepat merespons isu global dan cenderung memilih perjalanan yang fleksibel, aman, serta memiliki kepastian layanan.

“Sekarang wisatawan sangat memperhatikan fleksibilitas tiket, asuransi perjalanan, dan kebijakan pembatalan. Sensitivitas terhadap isu global jauh lebih tinggi,” jelasnya.

Konflik internasional juga dapat memicu perubahan rute penerbangan, terutama jika terjadi penutupan ruang udara atau peningkatan risiko di wilayah tertentu. Kondisi ini berpotensi mengurangi kapasitas kursi dan memperpanjang waktu tempuh, yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan harga tiket, khususnya untuk penerbangan jarak jauh ke Bali.

Baca juga:  Seratusan Pelaku Pariwisata Nasional Ikuti ITB Berlin

Pelaku industri pun diharapkan terus memperkuat komunikasi krisis dan menjaga stabilitas layanan agar kepercayaan pasar internasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

Sementara itu berdasarkan data BPS Bali, secara kumulatif, sepanjang Januari–Desember 2025, Bali menerima 6.948.754 kunjungan wisman, tumbuh 9,72 persen dibandingkan tahun 2024. Australia tetap menjadi pasar utama dengan total 1.628.459 kunjungan sepanjang tahun 2025. (Suardika/balipost)

BAGIKAN