Kecamatan Gerokgak yang diproyeksikan menjadi salah satu sentra bawang merah dan pengembangan hortikultura di Kabupaten Buleleng. (BP/istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Kecamatan Gerokgak diproyeksikan menjadi salah satu sentra bawang merah dan pengembangan hortikultura di Kabupaten Buleleng. Selain memiliki potensi lahan yang luas, kawasan di Buleleng barat itu dinilai strategis untuk mendukung program ketahanan pangan nasional.

Bupati Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra, Senin (11/5) mengatakan, Kecamatan Gerogak menjadi salah satu wilayah potensial untuk pengembangan sektor pertanian maupun perikanan. Bahkan, Gerogak telah dipetakan sebagai salah satu kawasan penyangga program ketahanan pangan yang akan dijalankan secara bertahap hingga tahun 2029.

“Gerogak ini salah satu kecamatan yang potensial. Pengembangan industri perikanan dan pertanian secara luas memungkinkan karena lahan yang tersedia cukup besar. Astungkara ke depan ini menjadi salah satu kecamatan penopang ketahanan pangan di Buleleng,” ujarnya.

Baca juga:  Nasdem Undang Seluruh Elemen Masyarakat Deklarasi Pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin

Menurut Sutjidra, Kabupaten Buleleng menjadi salah satu dari 13 kabupaten di Indonesia yang mendapatkan program penguatan ketahanan pangan nasional. Program tersebut dipilih dari sekitar 542 kabupaten di seluruh Indonesia.

Dalam program tersebut, terdapat empat komoditas utama yang akan dikembangkan, yakni dua jenis buah dan dua tanaman pangan. Untuk komoditas buah meliputi durian dan manggis, sedangkan tanaman pangan terdiri atas bawang merah dan sayuran hijau.

Ia menjelaskan, pengembangan komoditas tidak hanya difokuskan di Kecamatan Gerogak, namun tersebar di sembilan kecamatan di Buleleng sesuai potensi wilayah masing-masing. Untuk durian direncanakan berkembang di Kecamatan Busungbiu dan Seririt, sedangkan manggis salah satunya dikembangkan di Gerogak dan wilayah dataran tinggi Kecamatan Sawan.

Baca juga:  Lima Bulan Dibentuk, Sentra HAKI Bangli Catatkan 77 Kekayaan Intelektual

Sementara itu, bawang merah diproyeksikan berkembang di Kecamatan Gerogak, Kubutambahan dan Sawan. “Semua sudah dibuatkan peta pengembangannya, sehingga diharapkan tahun 2029 program ini berjalan dengan baik dari hulu sampai hilir,” jelasnya.

Program tersebut, lanjut Sutjidra, tidak hanya menyasar budidaya, tetapi juga mencakup penyiapan pembibitan, pendampingan petani, klinik pertanian hingga hilirisasi hasil produksi.

Terkait pengembangan bawang merah di Gerogak yang selama ini dikenal sebagai wilayah tadah hujan, pemerintah daerah menyiapkan dukungan sumber air dari Bendungan Gerogak.

Selain itu, jaringan irigasi dan jalan usaha tani juga akan diperbaiki untuk mendukung pengembangan pertanian. “Sepanjang aliran Bendungan Gerogak, kesiapan tanah dan ketersediaan air cukup baik. Termasuk nanti perbaikan jaringan irigasi dan kemungkinan pembangunan embung-embung baru,” katanya.

Baca juga:  Bawang Hingga Cabai Merah Jadi Faktor Utama Deflasi Juli 2024

Sementara itu, Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya menyambut baik pengembangan Kecamatan Gerogak sebagai kawasan pertanian dan hortikultura. Menurutnya, potensi tanah di wilayah tersebut sangat mendukung pengembangan komoditas pertanian.

Ia menilai, dukungan pemerintah pusat dan daerah harus berjalan selaras agar program ketahanan pangan dapat berjalan optimal. Terutama dalam pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi yang selama ini mulai mengalami kerusakan karena usia bangunan.

“Bukan karena kurang, tetapi bangunan irigasi sudah cukup lama sehingga perlu direhab dan diperbaiki kembali. Di samping itu juga harus dibuat titik-titik pengairan baru yang selama ini belum tersentuh,” tegasnya. (Yudha/balipost)

BAGIKAN