
DENPASAR, BALIPOST.com – Kenaikan harga minyak goreng kembali terjadi di pasaran. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyebut hampir seluruh merek minyak goreng mengalami kenaikan harga di kisaran 7 hingga 8 persen dalam beberapa waktu terakhir.
Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Bali, Budiman A. Sinaga di Denpasar menjelaskan kenaikan ini dipicu oleh dinamika geopolitik global yang berdampak pada meningkatnya biaya produksi, terutama bahan baku kemasan.
Menurutnya, harga bahan baku plastik yang berbasis minyak mengalami lonjakan hingga 40 persen. Selain itu, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) turut memperbesar biaya distribusi dan produksi.
“Kenaikan ini tidak hanya terjadi di Bali atau Indonesia saja, tetapi secara global. Karena bahan baku plastik itu berbasis minyak dan sebagian besar masih impor, jadi ketika terjadi gangguan di luar negeri, dampaknya langsung terasa sampai ke harga kemasan di dalam negeri,” ujarnya Rabu (22/4).
Meski demikian, kenaikan harga ini belum berdampak signifikan terhadap daya beli masyarakat. Di pasar ritel, konsumen disebut masih tetap berbelanja, meskipun lebih selektif dalam memilih produk, khususnya dengan beralih ke merek dengan harga lebih kompetitif.
Dari sisi pasokan, Aprindo Bali memastikan kondisi masih relatif aman dan lancar. Permintaan terhadap minyak goreng juga tidak mengalami penurunan karena merupakan kebutuhan pokok masyarakat.
“Secara demand, karena ini kebutuhan dasar, tidak terjadi penurunan. Hanya terjadi pergeseran ke produk dengan harga yang lebih kompetitif,” tambahnya.
Sementara itu, untuk minyak goreng subsidi Minyakita, harga masih mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp15.700 per liter. Namun di lapangan, produk ini kerap cepat habis akibat tingginya permintaan masyarakat.
Aprindo menilai, keberadaan minyak goreng subsidi masih menjadi penopang utama bagi masyarakat di tengah tren kenaikan harga yang terjadi secara globa. (Suardika/balipost)









