Suasana diskusi puluhan organisasi untuk merancang desain organisasi BCB di Kantor Dispar Bali, Kamis (16/4). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pelaku ekonomi kreatif (ekraf) dan digital di Bali semakin serius membangun kekuatan bersama. Mereka mematangkan pembentukan Bali Creative Board (BCB) sebagai organisasi payung ekraf dan digital di Pulau Dewata.

Konseptor BCB, Made Artana, menegaskan pentingnya kehadiran wadah bersama tersebut. Menurutnya, Bali memiliki potensi besar di sektor ekonomi kreatif dan digital yang perlu disatukan agar lebih berdaya saing.

“Bali punya kekayaan budaya, tradisi, talenta kreatif, dan pasar yang kuat. Semua ini perlu dihimpun agar pelaku ekraf memiliki posisi tawar yang lebih kuat dan mampu berkolaborasi lebih efektif,” ujarnya, Senin (20/4).

Baca juga:  Dari Pengusaha Bali akan Ikuti PPKM Darurat hingga 3 Digit Tambahan Warga Terinfeksi COVID-19

Rektor Primakara University ini juga menilai, keberadaan BCB nantinya dapat memainkan peran serupa dengan Bali Tourism Board dalam sektor pariwisata, sebagai lembaga yang memayungi dan memperkuat ekosistem industri.

Dalam waktu kurang dari satu bulan ke depan, para pelaku menargetkan pertemuan final yang sekaligus menjadi momentum peresmian BCB, termasuk penetapan ketua dan struktur pengurus awal.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Bali, I Wayan Sumarajaya, menyatakan dukungannya terhadap inisiatif tersebut. Ia mendorong agar BCB segera terbentuk dan dapat langsung berkolaborasi dengan pemerintah dalam pengembangan ekraf Bali. “Semakin cepat terbentuk, semakin cepat pula bisa bergerak dan bersinergi dengan kami,” katanya.

Baca juga:  Pembiayaan UMi Selamatkan Petani dari Renternir

Ke depan, BCB diharapkan menjadi lebih dari sekadar forum komunikasi. Organisasi ini ditargetkan menjadi mitra strategis pemerintah sekaligus simpul kolaborasi berbagai unsur pentahelix, mulai dari komunitas, pelaku usaha, akademisi, media, hingga pemerintah.

Dengan hadirnya BCB, Bali diharapkan mampu memperkuat fondasi ekonomi kreatif dan digital sebagai pilar baru ekonomi daerah, sekaligus meningkatkan nilai tambah dari kekayaan budaya lokal yang telah mendunia.

Sebagai bentuk keseriusan, Sumarajaya mengungkapkan bahwa telah dilakukan pertemuan di Kantor Dinas Pariwisata Provinsi Bali untuk mematangkan pembentukan BCB pada Kamis (16/4) lalu.

Pertemuan ini menjadi kelanjutan dari diskusi awal pada 2 Februari 2026 yang masih berfokus pada silaturahmi dan penjajakan ide. Kini, pembahasan telah masuk tahap konkret, yakni merancang desain organisasi BCB.

Baca juga:  Ditarget Kelar 15 Desember, Revitalisasi Pasar Melaya Baru Rampung 60 Persen

Sebanyak 33 organisasi, komunitas, dan asosiasi dari berbagai subsektor ekonomi kreatif hadir dalam forum tersebut. Mereka berasal dari bidang aplikasi, gim, arsitektur, desain, kriya, kuliner, film, musik, fotografi, hingga lintas sektor kreatif lainnya.

Dalam diskusi, peserta sepakat bahwa BCB akan dibentuk sebagai federasi yaitu sebuah organisasi yang beranggotakan organisasi, bukan individu. Konsep ini diharapkan mampu memperkuat konsolidasi antar pelaku ekraf dan digital di Bali. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN