Pesawat udara sedang melakukan pengisian bahan bakar. (BP/Dokumen)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Kenaikan harga avtur mendorong tarif tiket pesawat. Untuk itu, Indonesia melakukan pergeseran pasar wisatawan yang dibidik ke Asia dan Oseania. Demikian disampaikan Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia Ni Luh Puspa, sela-sela Dharma Santi Nyepi Tahun Baru Caka 1948 di Politeknik Pariwisata Bali, Jumat (17/4).

Ia menegaskan kenaikan avtur ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami lebih awal oleh berbagai negara lain. Untuk pasar internasional, pemerintah mulai mengarahkan strategi pada wisatawan jarak dekat dan menengah.

Baca juga:  Dugaan Gratifikasi, Mantan Kepala Kantor BPN Denpasar Tersangka

“Kami melakukan shifting market ke kawasan Asia dan Oceania. Fokus pada short haul dan medium haul market ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia,” ungkapnya.

Promosi digital pun terus digencarkan, disertai penguatan paket wisata berbasis hotel dan atraksi. Pemerintah telah mengambil langkah untuk menekan biaya perjalanan, salah satunya melalui kebijakan yang mengatur enaikan harga tiket pesawat di kisaran 9–13 persen.

“Selain itu, komponen fuel surcharge diberikan fleksibilitas hingga 38 persen, serta adanya dukungan seperti PPN yang ditanggung pemerintah,” ujarnya.

Baca juga:  Overstay dan Berbuat Tak Senonoh, Bule Prancis Dideportasi

Menurutnya, kebijakan tersebut dirancang agar tercipta keseimbangan antara keberlangsungan usaha maskapai dan daya beli masyarakat. “Kita harapkan ini menjadi win-win solution. Maskapai tidak merugi, sementara masyarakat tetap bisa melakukan perjalanan meskipun terjadi kenaikan harga yang masih dalam batas terkendali,” tambahnya.

Dalam upaya menjaga minat wisatawan, selain intervensi pada biaya transportasi, Kementerian Pariwisata juga memperkuat kolaborasi dengan pelaku industri.

“Kami terus berkomunikasi dengan industri, termasuk mendorong skema bundling paket wisata misalnya gabungan tiket dengan hotel dan atraksi agar tetap menarik minat masyarakat untuk berwisata,” jelasnya.

Baca juga:  Pandemi COVID-19, Penjualan Avtur di Jatim dan Bali Nusra Anjlok

Di sisi lain, pemerintah juga melihat adanya pergeseran tren perjalanan ke jalur darat, seiring semakin baiknya konektivitas infrastruktur antarwilayah di Indonesia. “Konektivitas jalan di Jawa, Sumatera, Kalimantan hingga Sulawesi semakin baik. Ini membuka peluang perjalanan lintas provinsi melalui jalur darat yang kami yakini dapat menjaga momentum pergerakan wisatawan domestik,” katanya. (Suardika/balipost)

BAGIKAN