Pedagang sedang melayani pembeli di Pasar Kereneng, Denpasar. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dewasa ayu atau ala ayuning dewasa memiliki peran penting sebagai pedoman dalam menentukan waktu yang tepat untuk melakukan sebuah kegiatan dalam tradisi masyarakat Bali. Secara etimologis, ala berarti buruk atau kurang baik, sedangkan ayu berarti indah, baik, atau utama.

Dewasa bermakna hari, waktu, atau momentum. Maka ala ayuning dewasa dapat dipahami sebagai perhitungan waktu yang mempertimbangkan sisi baik (ayu) dan kurang baik (ala), sehingga dapat dipilih saat yang paling harmonis untuk suatu kegiatan.

Baca juga:  Samsung Hadirkan Galaxy Z Fold2, Perpaduan Desain Kokoh dan Ragam Fitur Baru

Memilih waktu yang tepat untuk melakukan sebuah kegiatan ataupun upacara sama halnya dengan menjaga keseimbangan antara sekala dan niskala. Berikut ala ayuning dewasa hari ini, 13 April 2026 dikutip dari kalenderbali.org.

Amertayoga
Baik untuk membangun, mencari pengupa jiwa (nafkah), dan memulai suatu usaha/perusahaan.

Banyu Urug
Baik untuk membuat bendungan. Tidak baik untuk membuat sumur.

Kala Bregala
Tidak baik dipakai dewasa ayu.

Baca juga:  Jumlah Kasus Premanisme Diungkap Polda Bali Kalah Jauh dari Provinsi Lainnya, Ini Kata Kabid Humas

Kala Graha
Baik untuk membangun perumahan.

Kala Kutila Manik
Baik untuk membuat ranjau, pagar, rintangan, lubang penghalang maupun pemisah, alat perangkap, upacara Bhuta Yadnya.

Kala Sor
Tidak baik untuk bekerja hubungannya dengan dengan tanah seperti membajak, bercocok tanam, membuat terowongan.

Kala Sudukan
Tidak baik untuk memindahkan orang sakit, menunjukkan unsur perombakan.

Kala Suwung
Tidak baik untuk dewasa ayu, berkunjung.

Kala Temah
Tidak baik untuk dewasa ayu.

Baca juga:  Ini, Jadwal Salat Denpasar dan Sekitarnya 21 Februari 2026

Purwanin Dina
Tidak baik sebagai dewasa ayu

Salah Wadi
Tidak baik untuk melakukan Manusa Yadnya (wiwaha, mapandes, potong rambut, dll.) dan Pitra Yadnya (penguburan, atiwa-tiwa/ngaben, nyekah, ngasti, dll.).

Sri Tumpuk
Baik untuk mencari burung (mapikat). (Sumarthana/balipost)

BAGIKAN