
DENPASAR, BALIPOST.com – Persembahayangan Hari Suci Saraswati berlangsung di Pura Jagatnatha, Denpasar, Sabtu (4/4). Sejak pagi umat atau pemedek sudah memadati area pura yang didominasi oleh siswa.
Berdasarkan informasi dari Pemangku Janpanggul Pura Jagatnatha, Ida Bagus Saskara, pelaksanaan persembahyangan di Pura Jagatnatha rutin digelar pada hari-hari besar Umat Hindu termasuk pada Hari Saraswati ini. Untuk kali ini persembahyangan menggunakan upakara pulagembal yang dipuput (dipimpin) oleh Sulinggih Ida Pedanda Gede Putra Tunjung Kuning, Griya Bungsu Tunjung Kuning.
Persembahyangan dimulai sekitar pukul 09.00 yang juga diikuti oleh Pemerintah Kota Denpasar, dihadiri langsung Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara didampingi Sekda Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulya, Ketua DPRD Kota Denpasar I Gusti Ngurah Gede.
“Sejak pagi pemedek sudah banyak. Namun kita arahkan, karena upacara masih berlangsung yang pada hari kini kita ngelungsur tirta Saraswati, maka kita himbau pemedek menunggu agar mendapatkan tirta Saraswati,” katanya.
Seperti persembahayangan sebelumnya, dalam penanganan sampah yang ditimbulkannya, pemedek sejak jauh-jauh hari sudah dihimbau agar tidak menggunakan plastik. Demikian usai sembayang juga diarahkan untuk membuang sampahnya ke tempat sampah.
Terkait pengelolaan sampah, mengingat banyak sampah organik yang ditimbulkan, pihaknya telah memiliki lobang biopori dan teba modern. Selain itu, penanganan sampah organik usai penyelenggaraan upacara ini juga bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar. “Kami selalu komitmen menjaga kebersihan dan kesucian di Pura,” ungkap Ida Bagus Saskara.
Persembahayangan Hari Saraswati ini kata dia pastinya akan dibanjiri pemedek yang akan berlangsung secara bergilir hingga pukul 01.00 dini hari esok hari. Puncak keramaian akan berlangsung dari pukul 19.00 malam hingga pukul 23.00 WITA.
Untuk mengantisipasi membludaknya pemedek, bekerjasama dengan pecalang Kota Denpasar dan pecalang Banjar Abasan, mengatur tiap satu sesi saat pura penuh untuk menutup sementara area pura. “Setelah persembahyangan selesai dan masuk sesi berikutnya kita buka kembali. Ini kami lakukan agar pemedek tertib sehingga persembahayangan bisa dilaksanakan dengan nyaman,” imbuhnya. (Widiastuti/balipost)










