
ISTANBUL, BALIPOST.com – Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) serta perusahaan intelijen maritim Windward mencatat lebih banyak kapal mulai melewati Selat Hormuz. Tetapi lalu lintas di perairan strategis tersebut masih jauh di bawah kondisi normal sebelum perang berlangsung antara AS-Israel dan Iran.
Pada Kamis (2/4), Windward menyatakan 16 kapal melalui Selat Hormuz pada 1 April, naik dari 11 kapal yang melintas sehari sebelumnya. Jumlah kapal yang melintasi selat tersebut telah meningkat dalam tiga hari berturut-turut.
Perusahaan tersebut mencatat bahwa keseluruhan 16 kapal menggunakan rute melalui Pulau Larak, yang digambarkan sebagai koridor berbasis izin yang berada dekat dengan garis pantai Iran.
“Kapal-kapal yang dikenai sanksi Barat mencakup 62 persen dari transit pada 1 April karena armada tanker bayangan Iran yang masuk bersiap untuk pemuatan lebih lanjut,” catatt Windward dikutip dari Kantor Berita Antara.
Pola tersebut menunjukkan bahwa lebih banyak negara sedang bernegosiasi dengan Iran untuk mengamankan jalur bagi kapal melalui Selat Hormuz, meningkatkan kemungkinan bahwa volume transit dapat meningkat lebih lanjut dalam beberapa hari mendatang, kata Windward.
Meskipun meningkat, lalu lintas melalui selat tersebut masih jauh di bawah tingkat normal. UNCTAD mengatakan bahwa transit kapal melalui Hormuz turun dari sekitar 130 kapal per hari pada Februari, menjadi hanya 6 kapal pada Maret.
Penurunan sekitar 95 persen lalu lintas di Selat Hormuz menegaskan gangguan yang nyata sejak konflik dimulai dari serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026.
Selat Hormuz adalah salah satu jalur maritim paling penting di dunia, yang dilintasi sekitar seperempat perdagangan minyak global melalui laut serta volume gas alam cair dan pupuk yang signifikan.
Sekitar 20 juta barel minyak dulunya melewati selat ini setiap hari, sebelum Iran memberlakukan blokade dan mengendalikan Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan AS-Israel. (kmb/balipost)




