Prof. Dr. I Putu Anom, M. Par. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Meningkatnya kasus kriminal terhadap wisatawan mancanegara (WNA), termasuk kasus pembunuhan, mencoreng citra pariwisata Bali di mata dunia. Guru Besar Pariwisata Unud Bali, Prof. Dr. I Putu Anom, M.Par. menilai, bahkan kasus kecelakaan wisata saja sudah mampu memberikan dampak negatif terhadap persepsi wisatawan, apalagi jika terjadi pembunuhan.

Menurutnya, setiap kejadian yang menimbulkan korban wisatawan, baik kecelakaan maupun kriminal, akan cepat menyebar melalui media sosial dan membentuk opini global tentang keamanan destinasi Bali.

“Jangankan pembunuhan, kecelakaan wisata saja sudah berdampak negatif. Kasus wisatawan jatuh di Nusa Penida atau kecelakaan di gunung dan laut saja langsung menyebar ke dunia. Apalagi kalau sampai terbunuh, jelas ini mempengaruhi citra pariwisata Bali,” ujarnya di Denpasar, Senin (30/3).

Baca juga:  Gardu Induk Pemecutan Kelod Ditembok, Ini Alasannya

Ia menilai, saat ini pengawasan terhadap wisatawan dan destinasi wisata masih lemah, baik dari sisi aparat keamanan, pengelola usaha wisata, maupun masyarakat. Banyak lokasi wisata yang rawan kecelakaan seperti tebing, jalan sempit, dan spot selfie ekstrem yang belum dilengkapi sistem pengamanan memadai.

Selain itu, karakter wisatawan yang datang ke Bali juga semakin beragam. Prof. Anom menyebut, wisatawan dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah cenderung lebih berisiko menimbulkan masalah sosial, terutama jika tidak diimbangi dengan pengawasan yang ketat.

“Pengawasan kita masih lemah, baik dari kepolisian, pengelola hotel, villa, maupun usaha wisata lainnya. Sekarang siapa saja bisa menginap, yang penting kamar terisi. Ini harus jadi perhatian serius,” ujar Ketua ICPI (Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia) Wilayah Bali ini.

Baca juga:  Redam "No List," Wisatawan Diimbau Viralkan Bali Secara Positif

Ia juga menyoroti maraknya tempat hiburan dan aktivitas wisata buatan yang berpotensi memicu masalah seperti mabuk-mabukan, narkoba, hingga konflik antar wisatawan maupun dengan masyarakat lokal.

Menurut Prof. Anom, isu keamanan kini menjadi tantangan utama pariwisata Bali, bahkan setara dengan masalah kemacetan dan overtourism. Jika tidak segera ditangani, branding Bali sebagai destinasi wisata dunia bisa tergerus.

“Keamanan ini sudah menjadi tantangan utama selain kemacetan dan overtourism. Edukasi kepada masyarakat, pelaku pariwisata, dan pengawasan harus diperkuat agar kasus kriminal tidak merusak branding Bali,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa pemerintah daerah, aparat keamanan, Satpol PP, serta desa adat perlu meningkatkan pengawasan secara rutin, terutama di kawasan wisata seperti Seminyak, Pecatu, hingga wilayah perkotaan Denpasar yang menjadi pusat aktivitas wisatawan dan pendatang.

Baca juga:  Inmendagri No. 15 Tahun 2022 Berlaku, Atur PPKM Bali di Tengah Uji Coba Bebas Karantina

Tidak hanya pemerintah, pelaku industri pariwisata seperti hotel, villa, dan travel agent juga diminta meningkatkan sistem keamanan internal, termasuk pendataan tamu, pengawasan aktivitas wisatawan, dan koordinasi dengan aparat keamanan.

“Semua pihak harus terlibat, dari pemerintah, aparat, pengusaha pariwisata, hingga masyarakat desa. Kalau tidak, kepercayaan wisatawan bisa menurun,” katanya.

Prof. Anom menegaskan, Bali masih menjadi destinasi favorit dunia, namun menjaga rasa aman dan nyaman wisatawan harus menjadi prioritas utama agar pertumbuhan kunjungan tetap berkualitas dan berkelanjutan. (Suardika/balipost)

BAGIKAN