
AMLAPURA, BALIPOST.com – Keberadaan Bale Gajah di mandala utama Pura Penataran Agung Besakih, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, mungkin tidak asing lagi bagi umat Hindu ketika melakukan persembahyangan serangkaian upacara Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) maupun hari hari biasa.
Namun, tidak semua orang mengetahui konsep spiritual dari bangunan tersebut. Sebab, Bale Gajah merupakan bangunan yang disucikan untuk sulinggih, serta tidak semua orang bisa baik ke atas bale tersebut. Tidak sembarang orang pula yang bisa menyapu atau membersihkan bale tersebut.
Pamucuk Pemangku Pura Agung Besakih, Jro Gede Anglurah Bendesa menuturkan, Bale Gajah merupakan bagian dari empat bale utama di kawasan pura Penataran Agung Besakih. Bale dimaksud terdiri dari Bale Agung yang posisinya sejajar dengan Bale Peselang, dan ada Bale Pesamuan yang posisinya sejajar dengan Bale Gajah. Dalam konsepsi spiritualnya, Bale Gajah juga disebut Bale Nasti, yang dalam bahasa Sansekerta memiliki keterkaitan erat dengan simbol gajah.
“Gajah identik dengan Ganesha atau Ida Bhatara Gana. Jadi, gajah mencerminkan seorang pemuja harus memiliki sifat gajah yang juga dimaknai sebagai lambang sifat keteguhan dan kebijaksanaan, kaki yang kuat melambangkan kekuatan dan keteguhan iman, kulit yang tebal menggambarkan ketahanan diri, serta telinga yang lebar sebagai simbol kepekaan terhadap penderitaan sesama,” ucapnya, Kamis (26/3).
Kesakralan Bale Gajah tidak hanya terletak pada simbolismenya, tetapi juga pada aturan ketat yang menyertainya. Tempat ini disucikan dan hanya bisa digunakan oleh para sulinggih saat memimpin prosesi upacara. Bahkan, tak semua orang diperkenankan naik ke bale ini.
Selain sulinggih, hanya pihak-pihak tertentu seperti Ida Dalem Semaraputra selaku Wiku Nata Raja Jagat, pemangku, atau pinandita Desa Adat Besakih, itu pun dalam konteks tugas suci seperti ngunggahang upakara yang diperbolehkan menginjakkan kaki di sana.
“Bagi krama Besakih, larangan ini bukan sekadar aturan tertulis, melainkan warisan turun-temurun yang dijaga dengan penuh kesadaran. Bahkan untuk kegiatan sederhana seperti menyapu di area Bale Gajah pun tidak boleh dilakukan sembarangan orang. Dan hanya mereka yang mendapat titah atau memiliki kewenangan spiritual yang bisa nyapu di Bale Gajah ini,” katanya.
Menurut Jro Gede Anglurah Bendesa, secara konseptual, Bale Gajah juga menjadi bagian penting dalam prosesi pemujaan Ida Bhatara Turun Kabeh. Dua bale yang saling berhadapan Bale Pesamuan dengan Bale Gajah melambangkan kesatuan spiritual, merujuk pada ajaran Aji Karo Eket. Karo berarti dua dan eket berarti terikat menjadi satu. Ini menggambarkan koneksi antara yang memuja dan yang dipuja, sebuah penyatuan sakral yang tidak bisa dimasuki sembarangan tanpa pemahaman tattwa yang mendalam.
“Kalau dari sisi arsitektur bangunan, Bale Gajah dibangun dengan konsep mandala yang sarat makna kosmologis. Di dalamnya terdapat empat saka utama, dikelilingi delapan tiang di luar, yang melambangkan delapan arah mata angin (asta dala atau delapan helai teratai). Secara keseluruhan, terdapat 24 saka yang membentuk kesatuan simbolis Padma Bhuana, konsep alam semesta dalam ajaran Hindu. Dalam lontar Padmabhuana, konsep ini diibaratkan seperti bunga padma saat penyineban ia menguncup, dan kembali mekar dalam siklus spiritual yang abadi,” jelasnya. (Eka Parananda/balipost)








