
SINGASANA, BALIPOST.com – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Tabanan menanamkan pemahaman demokrasi kepada generasi muda melalui kegiatan literasi politik bertajuk Klompencapir Pemilu yang digelar di SMP Negeri 1 Tabanan, Jumat (6/3). Kegiatan ini diikuti siswa-siswi setempat.
Kepala Badan Kesbangpol Tabanan, Putu Dian Setiawan menegaskan pentingnya menanamkan pemahaman tentang demokrasi dan kepemimpinan sejak usia sekolah. Menurutnya, kegiatan yang diinisiasi Bawaslu tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkenalkan sistem pemerintahan dan proses demokrasi kepada generasi muda.
Ia mengapresiasi inisiatif Bawaslu Tabanan yang menghadirkan ruang edukasi politik yang sehat bagi pelajar. Menurut Dian, sekolah memiliki peran penting dalam mencetak generasi yang memahami nilai-nilai demokrasi sekaligus mampu menghindari praktik politik yang tidak sehat. “Investasi pendidikan demokrasi sejak dini akan berdampak pada kualitas pemilih di masa depan, termasuk pada Pemilu 2029,” ujarnya.
Ketua Bawaslu Kabupaten Tabanan, I Ketut Narta mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendorong penguatan pengawasan partisipatif melalui pendekatan edukasi kepada generasi muda. Menurutnya, program Klompencapir Pemilu dikemas dalam format diskusi yang interaktif sekaligus kompetitif.
Para peserta mengikuti tiga babak perlombaan untuk menguji pemahaman mereka terkait kepemiluan, demokrasi, serta peran generasi muda dalam menjaga integritas pemilu. Klompencapir Pemilu dan Demokrasi di SMPN 1 Tabanan bertujuan meningkatkan literasi demokrasi pelajar sekaligus menanamkan kesadaran partisipasi masyarakat dalam demokrasi sejak dini.
Dengan pendekatan edukatif dan kompetitif, siswa diharapkan mampu memahami nilai-nilai demokrasi serta menumbuhkan sikap kritis dan tanggung jawab sebagai calon pemilih pemula. “Dengan kegiatan ini, kami berharap generasi muda Tabanan tidak hanya paham pemilu, tapi juga siap menjaga kualitas demokrasi,” ujar Narta.
Ia menambahkan, generasi muda memiliki peran strategis dalam memperkuat demokrasi serta menentukan arah masa depan bangsa. Namun demikian, masih terdapat sejumlah tantangan seperti rendahnya literasi politik, maraknya disinformasi di era digital, hingga terbatasnya ruang partisipasi politik yang sehat bagi anak muda. Melalui kegiatan ini, diharapkan pelajar semakin berdaya dan siap menjadi agen perubahan dalam kehidupan demokrasi di masa mendatang. (Puspawati/balipost)









