Sekaa Teruna Teruni (STT) Eka Dharma, Banjar Saih, Peguyangan Kaja, menghadirkan ogoh-ogoh bertajuk “Raksasa Kala Nila Tirtha” yang sarat pesan tentang kesucian air dalam kehidupan. (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kreativitas generasi muda kembali mewarnai persiapan Kasanga Fest 2026 di Kota Denpasar. Sekaa Teruna Teruni (STT) Eka Dharma, Banjar Saih, Peguyangan Kaja, menghadirkan ogoh-ogoh bertajuk “Raksasa Kala Nila Tirtha” yang sarat pesan tentang kesucian air dalam kehidupan.

Ketua STT Eka Dharma, Surya di Kawasan Lapangan Puputan Badung, Jumat (6/3) menjelaskan, karya tersebut mengangkat tema air, sejalan dengan nasihat para pelingsir atau tokoh yang dituakan di banjar. Dari arahan tersebut, para teruna kemudian mengembangkan konsep dengan merujuk pada sumber sastra Hindu, yakni Lontar Purana Tattwa Tirta dan Lontar Kala Tattwa.

“Tema ini kami pilih sesuai dengan pesan para pelingsir. Kami ingin mengangkat makna air sebagai tirta yang suci dan sangat penting bagi kehidupan,” ujarnya.

Dalam narasi yang diangkat, diceritakan pada masa Kali Yuga, ketika air tidak lagi dimuliakan sebagai Tirta Amerta, manusia mulai memperlakukan sungai sebagai alat perebutan wilayah, kekuasaan, dan kepentingan duniawi. Sungai yang semestinya menjadi pembatas harmonis justru berubah menjadi sumber konflik.

Baca juga:  Pawai Ogoh-Ogoh di Ibukota Diikuti Ratusan Umat Hindu Jabodetabek

Melihat kekacauan tersebut, muncullah sosok Raksasa Kala Nila Tirtha, yang digambarkan sebagai manifestasi kekuatan hukum kosmis atau Ṛta. Sosok ini bukan sekadar raksasa jahat, melainkan simbol hakim alam semesta yang menimbang kesucian niat manusia terhadap air.

Dalam visual ogoh-ogoh, raksasa ini memiliki empat tangan yang melambangkan Dharma (aturan), Karma (akibat), Kāla (waktu), dan Bhūta (kekuatan alam). Cakra yang dipegangnya menjadi simbol hukum kosmis yang tidak dapat dihindari, sementara kendi atau kundika melambangkan kemurnian air sebagai sumber kehidupan. Sayap pada sosok tersebut dimaknai sebagai pengawas tiga alam atau Tri Loka, yakni Bhur, Bwah, dan Swah.

Baca juga:  Situasi Ngerupuk dan Nyepi di Denpasar Berlangsung Aman

Selain sosok raksasa, terdapat pula dua figur manusia, yakni I Wira Tirta dan I Dana Segara, yang berdiri saling berhadapan dengan bambu runcing. Keduanya tidak digambarkan bertarung, melainkan menjaga batas wilayah sungai sebagai warisan leluhur. Figur tersebut merepresentasikan kesadaran manusia yang masih berupaya mempertahankan air sebagai pemersatu, bukan pemicu perpecahan.

Menurut Surya, kisah tersebut menggambarkan pertarungan batin manusia dalam menentukan apakah air akan tetap menjadi Jala Sidhi Sweta, yakni air suci penyeimbang jagat, atau justru berubah menjadi alat perebutan kekuasaan.

“Di akhir cerita, raksasa tidak dihancurkan, melainkan ditenangkan, karena kesadaran manusia kembali pada dharma. Air menjadi saksi, hakim, sekaligus pemurni kehidupan,” jelasnya.

Proses pembuatan ogoh-ogoh ini berlangsung selama sekitar tiga bulan dengan memanfaatkan bahan-bahan alami. Tantangan terbesar dalam proses pengerjaan, kata Surya, terletak pada detail anatomi dan elemen artistik yang membutuhkan ketelitian tinggi.

Baca juga:  Hilangkan Kesan Seram, Ini Harapan Polresta saat Pengerupukan

“Kesulitannya lebih ke anatomi dan detail-detailnya agar tetap terlihat hidup,” ujarnya.

Partisipasi pada Kasanga Festival 2026 menjadi pengalaman pertama bagi STT Eka Dharma. Meski baru pertama kali mengikuti lomba dan berhasil masuk ke ajang festival tersebut, para teruna tetap optimistis dan berharap dapat meraih prestasi.

Terkait biaya pembuatan, Surya mengaku belum melakukan rekapitulasi secara menyeluruh. Namun estimasi anggaran yang digunakan diperkirakan mencapai sekitar Rp70 juta. Dana tersebut diperoleh melalui gotong royong berbagai pihak serta penggalian dana dari berbagai kegiatan lomba.

“Kasanga Festival 2026 juga menjadi langkah kontribusi kami sebagai generasi muda untuk ikut berperan dalam pembangunan Kota Denpasar melalui kreativitas seni dan budaya,” ujarnya. (Suardika/balipost)

BAGIKAN