Tim KIR SMPN 2 Marga didampingi para pembina menunjukkan hasil bioplastik dari kulit pisang. (BP/bit)

SINGASANA, BALIPOST.com – Tumpukan kulit pisang di warung pedagang gorengan yang kerap berakhir menjadi sampah, justru dijadikan peluang oleh siswa SMPN 2 Marga. Melalui kegiatan ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR), Dewa Ayu Fanny Apriliani bersama empat orang timnya menghadirkan inovasi bioplastik berbahan dasar kulit pisang saba atau biu gedang saba yang ramah lingkungan dan mudah terurai.

Inovasi tersebut lahir dari persoalan sampah plastik yang kian mengkhawatirkan. Apalagi, Gubernur Bali, Wayan Koster berulang kali mengingatkan penanganan sampah berbasis sumber ditambah lagi bencana alam banjir yang terjadi belakangan ini salah satu faktor juga akibat penumpukan sampah, terutama di wilayah padat aktivitas masyarakat. Berangkat dari kondisi itu, para siswa SMPN 2 Marga ini mencoba menawarkan solusi sederhana berbasis potensi lokal.

Baca juga:  Pertamina dan Hiswana Migas Donasikan Bantuan Penanggulangan COVID-19

Didampingi dua orang pembina ekstra KIR yang juga guru IPA yakni Ni Putu Siska Ratna Ulan Dari dan I Made Agus Yudana, Fanny menjelaskan, ide awal inovasi bioplastik dari kulit pisang ini muncul setelah sebelumnya membaca artikel penelitian tentang pengolahan kulit singkong menjadi bioplastik ramah lingkungan. Dari sana, tim KIR sekolah melakukan pengembangan dengan memanfaatkan limbah kulit pisang yang banyak ditemukan di sekitar pedagang pisang goreng.

Bahkan, untuk bisa berhasil menjadikan bioplastik dari kulit pisang ini mereka membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Prosesnya masih membutuhkan penyempurnaan, mengingat plastik yang dihasilkan dibuat dengan alat sederhana dan hasilnya belum maksimal. “Di sekitar sekolah banyak pedagang pisang goreng. Kulitnya menumpuk dan belum termanfaatkan. Kami berpikir, kenapa tidak dicoba dijadikan bioplastik,” ujarnya.

Baca juga:  Korban Begal Dipukul Pakai Batako

Pemilihan kulit pisang saba bukan tanpa alasan. Selain teksturnya lebih tebal, kandungan patinya dinilai lebih tinggi dibanding jenis pisang lain. Tim sempat mencoba menggunakan kulit pisang berbeda, namun hasilnya kurang optimal dan mudah rapuh.

Proses pembuatannya dilakukan secara bertahap. Limbah kulit pisang dikumpulkan dari pedagang, lalu dicuci bersih dan dipotong kecil-kecil. Setelah itu direndam dengan air perasan jeruk nipis, kemudian diblender hingga halus dan disaring. Hasil saringan dipanaskan pada suhu sekitar 85 derajat Celsius, dengan tambahan tepung maizena, cuka, dan gliserin hingga menjadi bubur kental.

Adonan tersebut kemudian dicetak dan dikeringkan hingga membentuk lembaran menyerupai plastik. Produk yang dihasilkan bersifat sekali pakai dan mudah terurai sehingga dinilai lebih ramah lingkungan dibanding plastik konvensional.

Baca juga:  Kasus Keracunan MBG, Ini yang Dilakukan BGN

Meski demikian, tim KIR SMPN 2 Marga ini mengakui produknya masih perlu penyempurnaan. Dari hasil uji coba, ketahanan fisik dan daya tahan terhadap air masih lebih lemah dibanding plastik berbahan sintetis. Saat ini, proses pencetakan dan pengeringan masih menggunakan alat sederhana seperti blender dan cetakan manual. Ke depan, tim berharap dapat menggunakan mesin pengepres agar hasilnya lebih padat dan kuat.

Kerja keras tersebut membuahkan hasil dengan raihan juara III kategori SMP dalam lomba inovasi daerah yang digelar Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida). Pembina KIR SMPN 2 Marga menilai, inovasi ini bukan sekadar produk, tetapi juga proses pembelajaran berpikir kritis bagi siswa. Melalui KIR, siswa diajak membaca referensi ilmiah, menguji hipotesis, hingga menciptakan pengembangan baru dari penelitian sebelumnya. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN