
DENPASAR, BALIPOST.com – Bulan Bahasa Bali VIII akan digelar sepanjang bulan Februari 2026. Pembukaannya akan dilangsungkan di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Minggu (1/2).
UPTD Taman Budaya Bali memastikan seluruh persiapan sarana dan prasarana untuk pelaksanaan Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 telah dimatangkan secara optimal. Berbagai gedung pertunjukan, fasilitas pendukung, hingga aspek kebersihan dan kenyamanan pengunjung disiapkan untuk mendukung suksesnya ajang pemuliaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali tersebut.
Kepala UPTD Taman Budaya Bali, I Wayan Mardika Bhuwana, mengatakan pihaknya telah melakukan optimalisasi menyeluruh terhadap gedung-gedung yang akan digunakan peserta lomba dari seluruh kabupaten/kota se-Bali. Gedung Ksirarnawa menjadi lokasi yang paling sering digunakan sekaligus menjadi pusat utama kegiatan.
“Di Taman Budaya kami sudah mengoptimalkan sarana dan prasarana, terutama gedung-gedung yang akan digunakan untuk lomba oleh kabupaten/kota. Gedung Ksirarnawa akan digunakan untuk pembukaan Bulan Bahasa Bali VIII yang dibuka langsung oleh Bapak Gubernur,” ujar Mardika Bhuwana, Rabu (28/1).
Ia menjelaskan, pada acara pembukaan tersebut akan langsung digelar lomba nyurat Aksara Bali yang akan dipantau secara langsung oleh Gubernur Bali. Selain Gedung Ksirarnawa, sejumlah gedung pertunjukan lain seperti Ratna Kanda juga disiapkan untuk menunjang berbagai cabang lomba dan kegiatan pendukung selama Bulan Bahasa Bali berlangsung.
Dari sisi fasilitas penunjang, UPTD Taman Budaya Bali juga memberikan perhatian serius pada kebersihan lingkungan dan kesiapan toilet. Renovasi salah satu toilet di bawah Gedung Ksirarnawa telah dilakukan menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2025.
Namun, Mardika Bhuwana mengakui tidak semua fasilitas dapat direnovasi secara menyeluruh karena keterbatasan anggaran yang juga dialokasikan untuk renovasi museum dan perbaikan ringan di kawasan Ardha Chandra.
“Kami tidak bisa merenovasi semuanya karena anggaran juga digunakan untuk museum dan perbaikan-perbaikan kecil di Ardha Candra. Namun, toilet-toilet yang paling sering digunakan sudah kami optimalkan,” ungkapnya.
Selain itu, pihaknya juga terus mengimbau peserta lomba maupun panitia untuk meminimalisir sampah selama kegiatan berlangsung. Pengawasan kebersihan dilakukan secara berkelanjutan mengingat Taman Budaya Bali juga menjadi ruang publik yang ramai dikunjungi masyarakat.
“Kami sangat konsentrasi pada persoalan sampah. Kami imbau peserta dan panitia agar bersama-sama menjaga kebersihan dan meminimalisir sampah yang dihasilkan,” tambahnya.
Untuk urusan dekorasi, Mardika Bhuwana menyampaikan bahwa penanganannya dilakukan oleh tim rekanan dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali yang telah ditunjuk secara resmi. Sementara itu, UPTD Taman Budaya Bali fokus pada penyiapan gedung dan panggung pertunjukan yang akan digunakan selama rangkaian acara.
Terkait parkir, panitia telah menyiapkan skema khusus. Peserta lomba akan diprioritaskan parkir di area depan Ardha Candra, sedangkan pengunjung umum diarahkan menggunakan area parkir di Kedaton, ISI Bali, serta parkir Banjar Abian Kapas di sekitar kawasan Taman Budaya Bali.
“Parkir memang sering menjadi kendala. Karena itu peserta lomba kami prioritaskan di depan Ardha Candra, sementara pengunjung bisa menggunakan parkir alternatif yang sudah dikoordinasikan,” ujarnya.
Prediksi pengunjung diperkirakan cukup tinggi mengingat Bulan Bahasa Bali merupakan ajang lomba yang melibatkan perwakilan dari berbagai daerah, seperti Kota Denpasar, Kabupaten Gianyar, dan Badung. Meski demikian, jumlah peserta per lomba diperkirakan tidak mencapai seribu orang, menyesuaikan dengan kapasitas Gedung Ksirarnawa yang mampu menampung sekitar 500 orang.
“Biasanya lomba yang paling diminati adalah Macecimpedan, karena ada keterkaitan dan interaksi antar peserta. Itu yang paling banyak menarik minat,” ungkap Mardika Bhuwana.
Dengan berbagai langkah persiapan tersebut, UPTD Taman Budaya Bali berharap pelaksanaan Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 dapat berjalan lancar, tertib, dan sukses, serta semakin memperkuat posisi Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali di tengah dinamika masyarakat modern.
Dihubungi terpisah, Plt. Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, IB. Gde Wesnawa Punia, mengungkapkan bahwa Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 mengusung tema “Atma Kerthi, Udiana Purnaning Jiwa”, yang dimaknai sebagai Bulan Bahasa Bali sebagai altar pemuliaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali sekaligus taman pembangun jiwa yang mahasempurna.
Tahun ini, maskot yang diangkat adalah kupu-kupu, yang melambangkan transformasi dan siklus kehidupan.
Kegiatan yang akan berlangsung selama sebulan penuh, mulai 1 hingga 28 Februari 2026 tersebut sebagai implementasi Perda Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2018 tentang Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Pergub Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang pelindungan dan penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.
Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali VIII dilaksanakan secara berjenjang, mulai dari tingkat desa, kelurahan, dan desa adat se-Bali, tingkat kabupaten/kota, lembaga pendidikan, hingga tingkat provinsi yang dipusatkan di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali.
Rangkaian kegiatan yang digelar meliputi Utsawa (festival), Wimbakara (lomba), Sasolahan (panggung apresiasi sastra), Widyatula (seminar), Kriyaloka (workshop), Rekaaksara (pameran), Malajah Sambilang Maplalianan (ruang belajar ramah anak), Paguneman Pangawi Bali (diskusi sastra), Raksa Pustaka (konservasi lontar), hingga penganugerahan Bali Kerthi Nugraha Mahottama.
Pada pembukaan Bulan Bahasa Bali VIII, juga akan digelar festival penulisan Aksara Bali pada berbagai media, mulai dari batu, tembaga, lontar, kertas, dan kanvas, hingga transformasi aksara Bali ke media kreatif dan digital sebagai bentuk adaptasi budaya di era modern. (Ketut Winata/balipost)










