Petugas mengevakuasi jasad bayi perempuan ditemukan bebatuan di Pantai Batu Belig, Kerobokan Kelod, Kecamatan Kuta Utara. (BP/Istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Pencarian korban hanyut di aliran Sungai Empelan Jemanik, Banjar Kuwum Ancak, Desa Kuwum, Kecamatan Marga, Tabanan, pada hari kedua, Kamis (22/1), mulai membuahkan hasil.

Tim SAR gabungan akhirnya menemukan jenazah yang dipastikan sebagai salah satu korban, Audrey Natalia Banafanu (1,5) di Pantai Batu Belig, Kerobokan Kelod, Badung. Temuan ini sempat mengejutkan pengunjung pantai karena jasad tersebut tersangkut di bebatuan.

Baca juga:  Masih Misterius, Identitas Mayat Laki-laki Bugil di Pantai Batu Belig

PS Kasubsipenmas Sihumas Polres Badung Aiptu Ni Nyoman Ayu Inastuti mengatakan kronologinya berawal dari seorang warga negara asing (WNA) sedang olahraga di pesisir Pantai Batu Belig pada pukul 06.30 WITA. WNA tersebut melihat adanya sesosok bayi yang tersangkut di bebatuan pinggir pantai.

Merasa curiga, WNA tersebut mendekat dan melihat bayi perempuan itu kondisi meninggal. “Kondisi korban terdapat luka lebam di seluruh area wajah, luka pada bagian perut dan dada. Kondisi tubuh membengkak diduga akibat terlalu lama terendam air laut, serta sudah kaku,” tegasnya.

Baca juga:  Baru Mampu Kelola 200 Ton, Denpasar Tunggu PSN Ubah Sampah Jadi Energi

Selanjutnya, WNA tersebut mendatangi petugas kebersihan 4 Ocean Foundation untuk meminta bantuan menghubungi pihak banjar. Mendengar penemuan jasad bayi itu, Made Niarta (46) dan I Made Alit Juni Setiawan (43) langsung ke TKP.

Mereka lalu menghubungi anggota Polsek Kuta Utara. Setelah Tim UKL Polsek Kuta Utara tiba di lokasi, korban dievakuasi dan dibawa oleh BPBD Badung menuju RSUP Prof. Ngoerah, Sanglah, Denpasar.

Baca juga:  Tak Cuma Samigita, Dua Pantai di Badung Ini akan Ditata

Kemungkinan korban terseret arus dari wilayah hulu sungai menuju muara, selanjutnya terbawa arus laut hingga terdampar di Pantai Batu Belig. Sedangkan luka-luka pada tubuh korban diduga akibat benturan dengan bebatuan atau benda keras selama proses hanyut. (Kerta Negara/balipost)

 

BAGIKAN