
MANGUPURA, BALIPOST.com – Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kabupaten Badung memperkuat langkah antisipasi penyebaran penyakit ternak Lumpy Skin Disease (LSD) pada sapi. Upaya tersebut dilakukan dengan menyiapkan tim reaksi cepat pengendalian penyakit hewan yang siap turun ke lapangan jika ditemukan laporan ternak bergejala.
Tim reaksi cepat ini dilengkapi mobil khusus serta layanan ambulatory guna mempercepat penanganan di tingkat peternak. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Disperpa Badung dalam melindungi kesehatan ternak sekaligus menjaga keberlanjutan sektor peternakan daerah.
“Kami memiliki tim reaksi cepat yang siap turun ke lokasi jika ada laporan ternak bergejala sakit. Peternak diminta segera melapor apabila menemukan gejala LSD agar bisa segera ditangani,” ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kabupaten Badung, I Wayan Wijana, Kamis (15/1).
Wijana menjelaskan, Lumpy Skin Disease merupakan penyakit hewan menular strategis yang hingga kini belum memiliki pengobatan spesifik. Karena itu, pencegahan menjadi kunci utama dalam pengendalian penyakit tersebut.
Disperpa Badung pun menekankan pentingnya vaksinasi, kebersihan kandang, serta pengendalian lingkungan peternakan. “Penyakit ini memang belum ada obatnya, namun hingga saat ini di Badung belum ditemukan kasus LSD ini,” tegasnya.
Meski belum ditemukan kasus, Disperpa Badung tetap meningkatkan kewaspadaan. Seluruh jajaran teknis di lapangan, termasuk kepala puskeswan dan kepala satuan kerja, telah diinstruksikan untuk bersiaga dan aktif melakukan sosialisasi kepada para peternak sapi. “Dengan rutin melakukan pemeriksaan ternak, menjaga kebersihan kandang, melakukan spraying, serta membatasi orang yang masuk ke kandang,” tegasnya.
Penularan LSD umumnya terjadi melalui gigitan serangga seperti lalat, nyamuk, dan kutu yang berkembang di lingkungan kandang yang kotor dan lembap. Kondisi tersebut membuat pengelolaan kandang dan limbah ternak menjadi faktor penting dalam upaya pencegahan penyakit.
Selain itu, Wijana mengingatkan peternak agar melakukan karantina terhadap ternak baru dan segera mengisolasi sapi yang menunjukkan gejala awal, seperti demam dan munculnya benjolan pada kulit. “Jangan memindahkan atau memperjualbelikan ternak yang sakit. Langkah ini penting untuk mencegah penularan ke ternak lain,” imbuhnya.
Disperpa Badung juga mengimbau seluruh peternak sapi untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman LSD dengan disiplin melakukan vaksinasi, menjaga kebersihan kandang, serta menerapkan biosekuriti secara ketat demi menjaga kesehatan ternak dan stabilitas peternakan di Kabupaten Badung. (Parwata/balipost)










