Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menggelar rapat koordinasi dengan jajaran Forkopimda Bali, Sabtu (22/6). (BP/Antara)

DENPASAR, BALIPOST.co – Menghadapi musim kemarau yang dimulai Juni ini, Bali diminta mewaspadai kebakaran tempat pembuangan akhir (TPA) sampah terulang kembali. Hal ini disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto dalam rapat koordinasi dengan jajaran Forkopimda Bali, Sabtu (22/6).

Dikutip dari Kantor Berita Antara, Suharyanto mengatakan peristiwa terbakarnya TPA Suwung seluas 32,4 hektare pada tahun lalu itu berdampak pada kesehatan masyarakat. Bahkan, mengancam sektor pariwisata dan perhubungan

“Di samping itu jika tidak ditangani dengan segera, maka kebakaran TPA Suwung dikhawatirkan semakin berdampak besar pada multisektor,” ucapnya.

Baca juga:  "Obstruction of Justice" Kasus Pembunuhan Brigadir J, Enam Anggota Polri Tersangka

Selain kebakaran hutan dan lahan (karhutla), lanjutnya, musim kemarau tahun lalu membakar 16 TPA di seluruh Indonesia, dengan yang terbesar di TPA Sarimukti Bandung Barat dan TPA Suwung Bali.

Oleh sebab itu Suharyanto mengumpulkan Forkopimda Bali untuk menghimpun kekuatan agar peristiwa kebakaran TPA Suwung tidak terulang di tahun ini. Dalam rapat koordinasi tersebut BNPB mewanti-wanti perihal terbatasnya armada helikopter untuk penyemprotan air dari udara.

Indonesia membutuhkan 30 helikopter setiap tahunnya untuk memadamkan api dari udara di enam wilayah prioritas yakni Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Helikopter itu diperoleh dari luar negeri.

Baca juga:  Tambahan Kasus COVID-19 Nasional di Atas 7.700 Orang

Untuk itu Suhariyanto tak ingin anggaran pemerintah dihabiskan untuk peristiwa yang dapat dicegah atau dikurangi dampaknya.

“Karena unit armada kami datangkan dari luar negeri, ada regulasi yang telah mengatur bahwa ini tidak bisa sembarangan terbang ke seluruh wilayah, begitu kami mau geser ke daerah lain itu susah karena aturan itu,” ujarnya.

“Jadi waktu mau menggeser ke Bali ini sulit, tapi karena waktu itu Bali sudah kritis maka helikopter yang selesai melaksanakan misi water bombing di Gunung Lawu saya minta geser ke sini,” ucapnya.

Baca juga:  Pembuat Miras Tanpa Cukai dan Mengandung MMEA Masuk Pengadilan

Untuk tahun ini meski sudah meminta Forkopimda Bali melakukan antisipasi, BNPB tetap memberi opsi jika kebakaran TPA kembali terjadi maka ada langkah alternatif Teknik Modifikasi Cuaca (TMC).

“Ada namanya TMC, kesuksesan penyelenggaraan semua acara internasional di Bali itu ada kita di balik layarnya,” ucap Suhariyanto. (kmb/balipost)

BAGIKAN